A Perfect Heart
“Lihat tuh bener
kan dia sukanya sama kamu…” bisik Rara di telingaku membuatku bergidik
karenanya, aku mengarahkan lagi pandanganku pada pemandangan disana dan
kemudian orang itu mendekat.
“Yura aku pergi
dulu ya.” Pamit Rara padaku, dia dengan cepat berlari pergi dan aku masih bisa
mengingat senyum jahilnya.
Aduh jantungku
berdegup makin cepat, gimana ini? Aku
makin membuat ekspresi lempeng dadakan dan…
“Yura kan?”
Tanyanya padaku dengan menunjukku, dan aku cuma bisa cengengesan menjawab
pertanyaan, juga berharap dia paham. Aku merutuki Rara, karena perkataannya
membuatku merasakan kegugupan ini.
“Oh iya aku minta
tolong kamu buatkan daftar hadir panitia buat minggu depan karena yang kemarin
hilang, tolong ya.”
Seketika aku
melongo disana, aku memang salah memikirkan terlalu jauh terlebih yang tadi
kupikirkan dia mencariku karena ada something special tapi ternyata ini.
Mungkin yang namanya jomblo kelamaan gini ya, dapat perhatian dikit aja udah
sampai sap 7 PDnya.
“Bisa kan?” cowok
didepanku menanyakan kembali entah untuk kesekian kalinya dia telah
mengatakannya padaku yang sedari tadi menyadarkan diri ini.
“Bbbisa kak…!”
jawabku tergagap. Aku menunduk malu.
“Baguslah…” dia
menanggapi lalu pergi dariku. Aku terus mengamatinya yang makin lama bekasnya
memudar dari hadapanku. Terkadang aku juga harus sadar diri. Seseorang yang
hebat bin spektakuler bin amazing sepertinya nggak mungkin suka dengan
seseorang yang seperti aku. Aku mendesah perlahan lalu berbalik menjauh tapi…
“Dia menjatuhkan
ini.” Gumamku pada bandul kunci yang kutemukan dari tempatnya berdiri tadi.
Dalam hati aku bertanya kiranya siapa nama yang menjadi perlambangan dibandul
ini, yang jelas 100% namaku nggak akan mungkin tercetus.
Namaku Yura
Hierata dan orang-orang biasa memanggilku Yura atau Rata. Mau bagaimana lagi
memang dua nama itu bisa menjadi nama panggilanku. Hobiku berlagak dramatis di
depan cowok ganteng atau mantengin cowok ganteng yang telah diciptakan Sang
Maha Kuasa di muka bumi ini. Sebenarnya kalau dari tampang aku nggak beda jauh
dari Imel Putri Cahyati, salah satu pemain ftv, tapi masalah nasib yang namanya
cowok ganteng itu jarang melirikku. Padahal tiap malem aku sudah perawatan.
Tapi hasilnya, sudahlah tak perlu dibahas.
Terkadang aku
mempertanyakan status cantik yang selalu dieluh-eluhkan sama teman sekelasku,
nyatanya nggak ada yang mendekat kearahku. Cowok satu sekolahan pun yang
tampangnya sedengan nglirik aja nggak. Mungkin masalah cinta aku memang kurang
mujur. Disela waktuku aku mengamati cewek-cewek yang kecentilan malah dapet
cowok ganteng padahal dari tampang jelaslah aku yang menang tapi masalah cinta
aku kalah telak bahkan mungkin mati sebelum berperang.
Tapi dia berbeda,
ya dia mungkin satu-satunya laki-laki yang mau menyapaku selain teman
sekelasku, tampan, berkarisma, pintar, dan nggak ada kekurangannya pokonya
kujamin untuk saat ini. Aku selalu mengucapkan syukur di sela doaku karena aku
sudah diijinkan bisa bertemu dengan species langka yang perlu dilestarikan ini.
Setiap malam tak henti-hentinya aku melihat fotonya di jejasos. Namun sesuatu
selalu menghadangku disaat perasaan cinta muncul, rasa takut itu masih
menemaniku.
“Rara Surya!!!!!”
aku berteriak lantang dari parkiran ketika melihat sahabatku itu terselip
dipandanganku tengah menaiki tangga menuju kelas. Dengan cepat aku berlari
memburunya dan dia juga dengan cepat menaiki tangga. Menjadi pusat perhatian
sudah pasti, ya mungkin itu juga kenapa para lelaki tak mau mendekat karena ke
hyperactive an ku ini.
“Mau kemana Ra?” tanyaku
begitu meraih tasnya dengan masih ngos-ngosan. Aku menariknya mundur
menjajariku, menatapnya layaknya daging ayam yang baru dimasak Mak Odah di
kantin. Kuselamatkan dulu napasku lalu, “Gara-gara anda nona Rara aku kemarin
mati kutu didepannya.”
“Lihat tuh Kak
Rendra.”
“Nggak peduli sama
yang namanya Rendra!” jawabku mengalahakan suara tapi dari ekspresinya aku
menangkap sesuatu yang salah.
“Beneran Ra.” Rara
mengecutkan wajahnya. Mampus gua, hilanglah kesempatanku setelah ini.
Aku menoleh
perlahan, mataku kututup rapat selama proses itu, dan ya benar rasanya
telingaku memanas. Aku tertawa mengawalinya, “Haaai Kak Rendra.” Sapaku lalu
segera kulepas tanganku yang menarik tas Rara, ia masih ciut disampingku.
“Ada apa manggil
namaku?” Tanyanya dengan tampang setengah sangar setengah penasaran.
“Aaanu…aaanu..”
“Lain kali bisa
kan nggak usah bikin heboh kayak gitu. Nggak malu ya ditonton banyak orang”
katanya sinis sambil menunjuk sekitar.
Rasanya seperti
dilempar barbelnya Adam Hercules, hancur sudah nyali ini. Ini pertama kalinya
bagiku melihat wajah dan sisi yang berbeda darinya, orang yang kusukai ditambah
dipermalukan seperti ini olehnya lagi. Aku menunduk pasrah, remuk sudah hati
ini, tak hanya remuk sakit semua malah, dan semakin sakit hati ini melihatnya
berlalu pergi seperti yang lain, hanya menyisakan kekecewaan pada diriku.
“Ma’af ya Ra.”
Ucap Rara di jam istirahat, aku masih menempelkan wajahku pada mejaku seperti
sudah kena lem, nggak mau lepas.
“Gila ya Ra elo
tadi jadi best gossip in this school.” Ejek Rohid, anak keturunan blasteran
jawa dan sunda entah dari mana nama india itu tercetus untuknya.
“Elo Roh ngehina
aja. Kasihan tuh temen lo.” Drian menceramahi Rohid dan seketika Rohid terdiam.
Kutegakkan sedikit
kepalaku, ternyata pening juga kalau diem kayak gini. “Udah ah kalian tuh. Ini
juga udah biasa.” Jawabku enteng sambil pemanasan sebentar.
“Ra ma’afin ya,
harusnya aku tadi tegesin kalau kak Rendra memang ada disana.”
Aku menepuk bahu Rara
dan menatapnya, “Nggak apa-apa Ra lagian aku untung jadi tahu gimana wujud
aslinya si Rendra.” Aku pura-pura tersenyum padahal dalam hati aku sudah nggak
kuat kebelet nangis.
“Ya udah Ra kita
cari lagi buat kamu.” Rara akhirnya membalas ternyum. “Oh iya lagi pula habis
ini kita kan ada les, kesempatan Ra buat nerusin mantengin si Dika.”
Rasanya seperti
ada bohlam yang menyala terang dikepalaku, “Bener juga.” Aku tertawa puas tapi
yang terdengar mungkin menakutkan karena ketiga orang tadi sekarang udah lari
entah kemana yang jelas lokasinya sudah tak bisa terdeteksi lagi.
Di tempat lesssss…..
“Bentar lagi Ra si
Dika datang.”
Deg…
“Itu si Rendra
ngapain sama si handsome people Ra?” sebutan Dika dariku te rlepas begitu saja,
aku melongo disana. Hingga tak sadar Dika sudah menyapaku dengan senyum
malaikatnya, dan aku pun langsung tersenyum kembali. Kuabaikan tatapan remeh
Rendra, sekarang yang terpenting cuma satu. Dika mau menyapaku, Ya Allah
rejekimu teramat banyak untukku.
“Lo lihat nggak Ra
si Dika senyumin aku.” Aku kegirangan sendiri di tempat dudukku.
“Lihat Ra tapi kan
si Rendra tadi hawanya kayaknya dan mungkinnya dia itu anti banget sama kamu.”
Jawab Rara dengan masih terkejut.
“Biarin aja si
Rendra. Tapi tunggu…” aku berpikir sebentar. “Si Rendra itu sama kelasnya sama
Dika?”
“I..iya lah Ra.
Masa kamu nggak tahu?” Rara balas nanya.
“Nggak lah Ra.”
“Kak Rendra kan
satu angkatan sama kita.” Rara menjelaskan, “Tapi aku juga nggak tahu kenapa
manggilnya pakek kak.” Tambah Rara makin agak detail.
Aku terdiam
meresapi jawaban penjelasan Rara. Sejenak aku tersadar kalau bedge kelas yang
ada di baju Rendra memang sama warnanya dengan milikku. Harusnya aku sudah tahu
hal ini terlebih aku satu organisasi dengannya, tapi ya sudahlah mungkin memang
aku harusnya belum tahu waktu itu.
Hari ini adalah
H-2 sebelum acara sekolah yang diselenggarakan oleh OSIS sekolahku, lombanya
sendiri untuk mengisi waktu luang setelah UAS. Semua anggota OSIS dan kelas
sibuk mempersiapkan untuk menyambutnya. Ada yang harus bolak-balik keluar
sekolah untuk membeli barang ada juga yang bolak-balik ke gudang sekolah untuk
meminjam beberapa peralatan tukang dan masih banyak lagi yang nggak mungkin
dijelaskan satu persatu.
“Ra ini data
peserta, nanti kamu jadiin satu terus kasih ke aku lagi sudah kamu print ya.”
Suruh Kak Dio, aku memanggilnya kak karena dia lebih tua dariku meskipun kami
satu angkatan.
“Ra kemarin buat
dekorasinya sudah semua?” Tanya Cika satu angkatanku juga yang berbagi tugas
dekorasi panggung denganku.
“Udah Ci tapi
nanti kalau kurang kamu balik kesini aja nanti aku cariin, kemarin aku beli
lebih.” Jawabku lalu langsung menyambar labtopku dan mulai menugas lagi. Tak
berselang lama seseorang datang membuat menoleh karena cahaya dari pintu
langsung terhalang. “Ma’af menyingkir sebentar ya, aku nggak ke…” mataku
terbelalak tak percaya menyadari orang yang tengah berdiri dengan ke-PD annya
dan sama sekali tak peduli akan aku. “Hoi Rendra nyingkir bentaran napa?”
tukasku padanya.
“Ogah.” Jawabnya
enteng. “Lagian nggak ada hubungannya juga posisiku dengan gangguan padamu.”
Tambahnya.
Aku mendecakkan
lidahku, “Gelap tahu, aku jadi nggak kelihatan buat ngetiknya.” Emosiku makin
naik tatkala melihatnya tak memperdulikan keluhanku, aku pun melenggang keluar
namun aku terhenti.
Rendra memegang
tanganku kasar, “Jangan berpikir untuk mendekati Dika.”
Aku menatapnya tak
percaya, “Darimana kau tahu?” tanyaku.
“Kelihatan banget
woy.”
“Dengar ya Dra mau
aku deketin si Dika atau nggak itu bukan urusanmu.”
“Dika udah punya
pacar.”
Aku terdiam
mencerna perkataan Rendra, kulepas tangannya paksa. Aku keluar menjauhinya tak
ingin lagi menatapnya. Meninggalkannya mentapku berlalu, saat ini aku hanya ingin
meratapi nasibku sendiri.
Aku menyelesaikan
semua tugasku hari ini juga, sampai tak sadar kalau aku masih di sekolah dan
belum bersiap untuk lesku. Dengan cepat aku segera turun menyambar motorku dan
menuju tempat les.
Sesampainya di
tempat les aku langsung menuju kamar mandi dengan masih menenteng tas ranselku.
Aku mencuci muka lalu setelahnya aku sholat di mushola tak jauh dari kamar
mandi. Tanpa sadar saat aku menatap arlojiku aku melotot, aku sudah terlambat
masuk kelas, aku segera bergegas ke kelas.
Di jalan menuju
kelas aku mengetahui kalau Dika dan Rendra berjalan ke arahku tapi kutundukkan
langsung kepalaku supaya aku tak menatap wajah mereka. Aku takut aku akan
menangis disana. Begitu cepat adegan itu hingga ternyata aku sudah sampai di
kelasku. Aku duduk di barisan belakang karena keterlambatanku, tapi aku
bersyukur setidaknya posisiku sekarang membantuku menenangkan diri. Melupakan
segala hal yang baru-baru terjadi.
Besoknyaaa
Besok adalah
hari-H kegiatan yang diselenggarakan OSIS, tapi nyatanya hari ini aku tak bisa
banyak membantu di sekolah. Aku sedang menyelesaikan Try out di tempat lesku
lalu setelahnya ada tambahan pelajaran dengan tentor kesayanganku. Aku terduduk
sendiri di tempat tambahan pelajaran, banyak kursi-kursi yang telah terisi
dengan beberapa siswa dan tentor mereka yang dipilih oleh mereka. Tapi tentorku
belum juga menunjukkan tanda-tanda kehadirannya disaat seorang cowok
menyebalkan duduk manis didepanku.
“Ma’af ya situ
ngapain kesini?” tanyaku hati-hati, aku tak mau emosi naik karenanya lagi.
“Aku mau tambahan
sama Kak Ria wahai jomblo.” Jawabnya, aku menatapnya sinis tapi tunggu
sebentar.
“Kog tentornya
sama?” tanyaku lagi terkejut.
“Karena sudah
kutambahkan namaku di bawah namamu mblo.” Jawabnya enteng. Dia lalu menatapku
tajam membuatku tersipu malu karena itu. “Kamu nggak suka aku ikut tambahanmu?”
tanyanya kemudian.
Aku menahan
kegugupanku, “Ya…ya enggak lah.” Jawabku tergagap. Dia lalu tertawa puas. Aku
mendelik dibalik bukuku.
“Sebegitu benci
itukah kamu sampai menatapku saja tak mau sekarang.” Godanya, dan kali ini aku
akan membalasnya.
“Iya, kenapa?”
tantangku.
“Oke aku juga
benci banget sama kamu.” Jawabnya dengan memelototiku.
“Nggak ada yang
nyuruh kamu suka sama aku juga kali, kalau mau benci ya silahkan.” Ejekku
padanya lalu tak ada lagi kata darinya membuatku menatapnya penasaran. Dia
terdiam disana memperhatikanku dengan tenangnya, aku pun ikut terdiam disana
menunggunya.
“Tapi kamu sudah
menyuruhku menyukaimu sekarang.” Ucapnya membuatku merinding.
“Sssiapa yang
bilang?” balasku.
“Tidak aku sudah
menyukaimu sekarang.”
Mataku terbelalak
tak percaya, dia semakin mendekatkan kursinya denganku. Jantungku mulai
berdegup tak karuan disana, rasanya pipiku pun ikut memanas.
“Sudah selesai
belum pdkt nya?” kami menoleh bersamaan, ternyata tentornya sudah datang. Aku
dan Rendra segera berbenah. Tapi jantungku belum bisa berbenah dari tadi nggak
akan bisa selama ada Rendra disampingku.
Sampai jam
tambahan berakhirpun jantungku masih berdegup kencang, aku bisa berkonsentrasi
pada pelajaran yang disampaikan tentorku tapi hanya sebentar-sebentar lalu
ngurusi si jantung lagi. Apalagi tadi si Rendra yang terus-terusan menatapku
padahal aku sudah disampingnya, membuatku ingin ke kamar mandi untuk istirahat
darinya supaya aku kuat.
“Yok ke sekolah
lagi Ra.” Ajaknya sambil menenteng tasnya dan berdiri tegap. Aku terdiam
sebentar, bukan menatapnya tapi hal lain. Rendra yang tadinya sudah siap lepas
landas pun kini mengikuti arah pandanganku. Nampak jelas sekali kebahagiaan
disana, membuatku tersenyum setelahnya tapi mataku terasa berair sekali. “Ayo
Ra udah telat.” Dika meraih pergelangan tanganku dan mengajakku pergi, aku
sempat melihat wajah seseorang tadi dia masih tersenyum dengan senyum yang sama
tapi alih-alih membalasnya aku malah mengacuhkannya terlihat sekali aku
terluka.
“Gimana udah tahu
kan?” Tanyanya padaku setelah diluar.
Aku mendongakkan
kepalaku dan tersenyum kearahnya, “Syukurlah si Dika sama cewek tadi.” Aku tahu
aku belum siap tapi aku harus Nampak baik di depan Rendra, “Tahu nggak Dra tadi
si ceweknya itu cantik banget dan dari penampilannya aja aku sudah tahu kalau
dia tahu tipe-tipe orang yang halus, lembut dan pe…”
“Kalau senang
kenapa air mata ini harus keluar?” tanyanya lagi, aku tahu itu aku tahu aku tak
akan bisa kuat untuk kali ini. “Aku bareng denganmu ya soalnya tadi aku kesini
bareng teman dan dia kayaknya udah duluan.” Bukannya menjawab aku masih sibuk
mengusap air mataku. Dika memberiku helmku, “Ini buruan.”
Rendra meminta
kunci motorku dan memintaku duduk dibelakangnya. Aku tak sanggup bereaksi
seperti tadi, masih terkenang jelas bagaimana kejadian tadi, ya Dika nampak
bahagia sekali dengan wanita itu, hingga ia tak tahu seseorang memperhatikannya
dari jauh sangat jauh mungkin lebih tepatnya cintanya datang untukku hingga
berlabuh di hati orang lain.
“Hei Ra kamu kog
diam saja dari tadi?” entah sudah berapa kali Rendra sudah berkata banyak hal
padaku, aku tak bisa mencernanya atau mendengarnya.
“Wah udah sampai
aja.” Ucapku begitu aku focus dan melihat sekolahku. Aku tahu itu, Rendra. Ia
memegang erat tanganku seperti kemarin. “Ada apa lagi Dra?” tanyaku kemudian.
“Jangan
menangisinya, masih ada aku yang akan selalu mencintaimu Ra.” Ucapnya dengan
wajah mantab. Aku terdiam sebentar lalu melepas pegangannya dengan halus,
kulihat wajah kaget ditunjukannya.
“Aku menangis
bukan karena aku bersedih Dra tapi karena aku bahagia.”
“Bahagia?”
“Bahagia karena
dia bisa mendapatkan seseorang yang bisa membahagiakannya.”
“Sok dramatis lu
Ra.” Rendra mencibir tak percaya, “Sudahlah nggak usah bohong gitu…”
“Lalu aku bisa
apa?” aku menaikkan suaraku, aku menatapnya tajam. “Karena selalu seperti ini.
Hingga aku sudah tahu seperti apa yang akan terjadi dan harus seperti apa aku menanggapi
semuanya.”
Rendra menatap
haru kearahku, tapi aku tak menginginkan ini. Aku menjauhinya, seperti dulu
sebelum aku menangis dihadapannya.
“Dra tolong nanti kamu kasihkan ini ke Kak Dio, oh iya tolong juga
nanti kamu bantuin ngebuat piagam juara ya. Soal konsepnya sudah ada di aku.”
Aku menatap sebentar Rendra lalu pergi tanpa memandangnya kembali, kudengar
langkah kakinya pun juga menjauh dan disana aku berhenti sebentar memukul
dadaku yang sesak, menguatkan nafasku dan berjalan lagi.
Terlalu sibuk hari ini hingga berkali-kali aku berpapasan dengan
Rendra tak ada satupun dari kami yang bertegur sapa. Mungkin karena kami tak
pernah sendiri. Ingin sekali aku mengucapkan terimakasih padanya tapi tak bisa.
Rendra sibuk memainkan mouseku dan kulihat wajah seriusnya pun
menyatu bersamaan. Aku memutuskan untuk keluar mencari air minum untuknya. Setelah
mengantri di kantin aku kembali ke ruang OSIS. Sebelum kesana aku melihat
sebentar kea rah panggung yang ramai anak-anak OSIS yang tengah beristirahat
disana dan ada juga yang mempersiapkan acara selanjutnya, dan aku kembali
menemui Rendra, hanya kami berdua disana tadinya.
Ketika aku sampai disana aku terkejut tak menemukan Rendra,
ketengok sebentar labtopku dan disana terlihat sudah hasil kerja keras Rendra,
aku tersenyum sebentar lalu kembali mencari sosok Rendra. Tapi tak ada, dia tak
ada dimana pun. Sudah aku cek di panggung dengan anak-anak OSIS lainnya pun
juga taka da, akhirnya aku memutuskan kembali ke ruang OSIS dan memutuskan
mencetak piagam yang dibuatnya.
Hatiku gundah tak juga menemui Rendra bahkan setelah acara usai,
aku ingin bertanya pada teman-teman yang lain tapi aku masih malu. Tapi aku
ingin mengetahui dimana ia, aku khawatir padanya.
“Ci tahu si Rendra nggak?” tanyaku hati-hati supaya Cika nggak
curiga.
“Nggak tahu tuh Ra.” Jawab Cika singkat lalu berlalu pergi bersama
kesibukannya.
“Kak Dio tahu si Rendra nggak?” tanyaku pada Kak Dio yang tengah
membereskan kabel.
“Nggak Ra.” Jawabnya.
Aku mendesah pelan menanggapinya.
“Kenapa nyari aku?” aku terkejut bukan kepala, Rendra tiba-tiba
muncul dibelakangku. Aku mengusap dadaku dulu lalu berbalik.
“Iya tadi aku mau…”
Prang…
Atribut panggung hampir mengenaiku dan kini membuat tangan Rendra
menjadi tumpuannya untuk melindungiku. Semua orang yang ada disana langsung
membantu Rendra dan mengantarkannya ke UKS yang memang letaknya tak jauh dari
panggung.
Aku terus terpaku memandangi Rendra yang kini sudah ditutupi oleh
orang-orang yang membantunya.
“Ra nggak pa-pa?” Tanya teman-teman lain padaku, dengan cepat aku
tersenyum menjawabnya. Apa Rendra nggak apa-apa? Tanyaku terus dalam batinku.
Sorenya setelah selesai berbenah….
“Dra!” aku berteriak memanggil Rendra yang berjalan dengan terus
memegangi tangannya. Dia berbalik dan kini memandangku dengan penuh tanya.
“Biar aku yang nganter kamu, nanti motor kamu titipin aja ke satpam.” Pintaku
padanya.
“Nggak pa-pa aku pulang bareng Dio kog.” Tolaknya lalu berbalik
meninggalkanku.
“Hati-hati Dra.” Ucapku pelan pada bayangannya yang kini telah
menghilang bersamanya.
“Ra!” aku berbalik cepat begitu mendengar namaku.
“Rendra? Kenapa?” tanyaku kemudian.
“Kamu nggak kenapa-napa kan tadi?” Tanyanya kemudian dengan masih
terengah-engah karena berlari.
Aku memegang pelan tangannya yang sakit, ia agak mendesis ketika
aku melakukannya, “Sekarang sudah tahu kan siapa yang terluka.” Balasku. “Kau
tak perlu melakukannya untukku.”
“Hei jangan PD dulu. Aku lakuin tadi itu karena akunya aja yang ada
disana.” Katanya menanggapi.
Aku terkekeh sebentar, “Kuhitung sudah dua kali kamu
menyelamatkanku, yang pertama pas di tempat les dan yang tadi. Untuk itu aku
ucapkan terimakasih ya Dra.” Aku sedikit membungkukkan kepalaku lalu kulihat
senyum Rendra terkembang disana membuatku ingin mengabadikannya.
“Aku ingin selalu ada disampingmu saat kau terluka. Tak akan
kubiarkan orang lain yang menggantikannku.” Rendra mendekatkan wajahnya
membuatku mundur perlahan namun ia menyergahnya.
“A..apa yang akan kau lakukan Dra…?” tanyaku kemudian dengan
tergagap aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, adegan ini, semuanya seperti sudah
tersusun dan bahkan aku bisa tahu benar apa kelanjutannya.
Plakk…
Tanganku kuayunkan menamparnya, napasku tersengal setelahnya. Air
mataku keluar setelahnya namun hanya menggenangi mataku. Kulihat senyum itu, senyum
yang sama.
“Padahal tadi itu hampir saja.” Ucapnya dengan tawa meledek. “Tapi
sepertinya aku memang sudah gagal dari awal.”
Aku mengernyit memandang Rendra yang tengah memegangi pipinya.
“Yura!” aku segera berbalik dan melihat Rara dan sahabatku yang
lain berlari menghampiriku. “Ayo pergi dari sini.” Ajak Rara dengan menggandeng
tanganku, kulihat Rohid dan Drian berhenti disana dan mereka tampak memulai
pertengkaran dengan Rendra.
Begitu jarak kami sudah jauh, Rara pun menghentikan langkah dan
memelukku hangat.
“Ra ma’afkan aku.” Ucapnya. Aku masih terbengong disana.
“Untuk apa?”
“Si Rendra itu cuma mau mempermainkanmu.”
Runtuh sudah kekuatanku, aku berlinang air mata setelahnya. Rasanya
begitu menyakitkan, lagi aku harus merasakannya lagi. Dan untuk kesekian
kalinya aku tersenyum lagi dan berusaha sekuat tenaga, mengatakan “Aku tak
apa.”
Rara menatap haru kepadaku…
“Lagi pula aku memang nggak suka padanya jadi aku ya nggak
apa-apa.” Jawabku dengan bibirku yang bergetar.
Bruk…
Aku menabrak seseorang karena melamun lagi, aku membantu memunguti
buku-bukunya lalu memberikannya.
Deg…
“Ini. Ma’af sebelumnya.” Kataku, tiba-tiba pikiranku teringat
kembali dengan perkataan seseorang tempo hari, Dika sudah punya pacar. Aku
berlalu pergi setelahnya.
“Eh tunggu.” Aku terus berjalan merasa kalau itu bukan untukku.
“Yura makasih.” Aku terhenti, berbalik dan melihat senyum Dika terkembang
disana. “Mau tambahan denganku, itu pun kalau kamu nggak sibuk.”
“Aku?” tanyaku dengan menunjuk ke diri sendiri.
“Iya, gimana?” tanyanya kembali.
“I..iya boleh.” Aku tersenyum lebar, hatiku gembira kembali. Aku
mengikutinya dan kami pun duduk berdampingan di kursi tempat tambahan. Dika
masih tersibuk dengan buku yang kutabrak tadi. Dengan enggan aku bertanya,
“Tambahan apa ya Dika?”
“Biologi.” Jawabnya. Dengan segera aku mengeluarkan buku catatanku
dan juga buku paket biologiku. “Kamu kemarin nggak masuk ya?” tanyanya.
“Eh…enggak soalnya kecapean habis ada acara sekolah.” Jawabku
terkaget. “Kog tahu kalau aku nggak masuk?”
“Soalnya kamu biasanya ada tapi kemarin nggak ada.”
Aduh aku udah bahagia dibeginian aja, nggak lebih.
“Seneng deh ada yang tahu keberadaanku.” Cerocosku. Aku langsung
membekap mulutku, dan melirik ke arah Dika tapi disana aku menemukan senyumnya.
“Sudah lama aku tahu akan dirimu tapi kamu terlalu sulit untuk
diajak ngobrol.” Ucapnya dengan membalas tatapanku, cukup lama kami terdiam.
Rasanya aku mau pingsan saat ini, tapi tak mungkin kulakukan bisa mati kutu
nanti akunya. Dia, senyumnya mampu membiusku. Aku jatuh cinta pada hal itu
ternyata, sejak dulu.
Kini semua telah kembali normal, kehidupanku dan orang-orang. Mulai
saat itu aku telah mulai agak nggak hyperactive, dan soal cinta masih sama. Aku masih menyukai Dika yang
setiap hari Sabtu selalu menyisipkan namaku dalam agenda tambahannya, hanya
sekedar bercanda tentang keadaan masing-masing sambil belajar. Hal yang paling
membuatku bahagia adalah saat dia mengatakan bahwa ternyata semua yang
dikatakan Rendra soal dia tak jomblo salah besar, dia memang masih jomblo
layaknya aku tapi dia masih menunggu seseorang yang lain yang tentunya lebih
layak dicintainya.
Tapi berada di posisi ini sudah membuatku bahagia, saat ini aku pun
tak mau memikirkan tentang kejombloanku. Meskipun suatu hari nanti pada
akhirnya cintaku ini tak akan sampai padanya, Dika.
Komentar
Posting Komentar