Sebelumnya terimakasih untuk para pengunjung blog ini, dan semoga cerita ini disukai meskipun masih banyak kekurangan disana-sini.
selamat membaca...
Tak pernah terpikir olehku untuk memiliki penyakit yang menyeretku ke dalam hampanya hidup, aku kehilangan berbagai semangat hidup, kehilangan senyum yang harusnya terpancar di wajahku yang menawan ini, dan kebohongan yang selama ini telah kusembunyikan tentang keadaan yang sama sekali jauh dari kata sehat.
"Saya sakit apa Dok...?" tanyaku
"Anda menderita kanker otak stadium awal, itulah sebabnya anda sering mengalami pingsan" jawab dokter itu dengan penuh keyakinan.
Rasanya tubuhku seperti disambar petir, aku diam mematung selama beberapa saat ketika mendengar pernyataan dokter itu.
"Tapi selama anda bisa menjaga pola makan anda ditambah dengan mengkonsumsi obat ini anda mungkin bisa sembuh"
"Baik dok..."
Apa yang harus kulakukan, hidupku rasanya telah hancur. air mataku tanpa kusadari ikut menetes seakan merasakan apa yang kurasakan. Setelah mengetahui penyakitku ini aku agak menutup diri dari dunia luar, mengikuti ekstra seperti basket yang sejak dulu telah ku ikuti semenjak aku duduk di bangku kuliah ini telah kuhindari. Bahkan ajakan main keluar yang biasanya selalu kuikuti kini telah kutolak tanpa memberitahu alasan yang jelas.Orang-orang disekitarku mulai menjauh dariku, tapi semua hal itu tak kupedulikan lagi yang terpenting aku harus sembuh dulu. Tapi aku bersyukur kedua sahabatku tidak pernah ingin pergi meninggalkanku sendirian, meski mereka belum tahu penyakit yang kuderita.
Aku memang tidak menceritakan penyakit yang kualami pada orang lain termasuk keluargaku, hanya dokterku sendiri yang mengetahui penyebab menurunnya stamina hidupku. Aku tidak membuat orang-orang kusayangi khawatir akan diriku.
Tapi aku tidak ingin terpuruk selamanya dalam keadaan ini sampai aku menemukan surat dari pamanku yang telah meninggal di usia mudanya karena penyakit yang sama sepertiku. Semalaman aku menangis membacanya, surat yang ditujukan pada keponakan yang paling ia sayangi yaitu aku sangat menyentuh hatiku. Dalam surat itu ternyata Pamanku menceritakan keinginan untuk membahagiakan orang lain yang berharap aku bisa melakukan hal itu.
Sudah 2 minggu sejak aku divonis penyakit ini, mulai hari ini aku ingin berubah menjadi diriku yang selalu ceria. Pagi-pagi sekali kutelfon kedua sahabat karibku untuk mengajak mereka jalan-jalan pagi sambil mencari cemilan pagi, dan aku senang karena mereka tidak ada kuliah hari ini sama sepertiku jadi bisa puas acara jalan-jalan pagi kami
Ketika aku sampai di halte dekat kos-kosan ku kudapati kedua temanku menungguku.
"Kau terlambat 15 menit Dervia Arfa" kata Dini, sahabatku yang satu ini memang paling sering memanggil nama lengkapku.
"Kau harus mentraktir kami pizza paket combo ya sebagai permintaan ma'af" kata Niza, kalau sahabatku yang satu ini emang paling perhitungan.
" Iya-iya...." jawabku sambil nyengir.
"Via mau kemana aja kita...?" Tanya Niza.
"Beruntung semalam gua udah beli peta kota Malang..." Sontak membuat kedua temanku terkejut sampai gelagapan.
"Wah gila lo ya Dervia Arfa, kesambet lo..." Sentak Dini.
"Gue waras kok Dini Fahrenzia..."
"Tapi Via akhir-akhir ini kan kamu murung kenapa sekarang kamu jadi agak kembali kayak dulu, atau jangan-jangan kamu kamu murung itu gara-gara kamu kejedot pintu atau mungkin gara-gara jatoh dari kasur atau..."
Aku dan Dini langsung pura-pura tidur mendengar perkataan Niza.
"Kok gak di dengerin sih aku ngomong"
"hehe ma'af, kamu sih bicaranya kepanjangan..."
"Tapi kamu nggak apa-apa kan ?" pertanyaan Niza sempat membuatku membeku sebentar.
"Aku nggak apa-apa kok Niza Amarta..." Kataku sambil merangkul Niza.
"Baiklah, mari kita berangkat...!" ajakan Dini sontak membuatku dan Niza langsung berlari.
"Via...via..."
"Dervia..."
"Ma'af sebaiknya mbak-mbaknya tunggu diluar saja..." perintah suster itu.
Niza langsung menangis haru di pundak Dini, Dini berusaha tegar dengan menenangkan Niza tapi ternyata ia akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya sendiri dan akhirnya ikut menangis meski tak sesenggukan seperti Niza.
"Din apa yang terjadi sama Via sih?"
"Aku juga nggak tahu Za..."
"Bagaimana kalau Via..." suara Niza langsung terhenti ketika ia melihat Dokter keluar dari ruangan tempatku di rawat.
"Siapa kelurganya...?" Tanya dokter itu.
"Saya sepupunya dokter..." jawab Dini.
"Bisa bicara dengan saya sebentar?"
"bisa Dok..."
Dini dan dokter berlalu meninggalkan Niza menunggu di ruang tunggu sendirian. Dini hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya tanda bahwa ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kanker otak... apa dokter nggak salah diagnosa..."
"Apa Via belum cerita pada anda tentang penyakitnya sebelumnya...?"
"Dia tidak pernah bercerita apapun tentang penyakitnya dokter..."
"Kali ini kankernya sudah semakin parah, apa lagi tadi kata anda Via mengalami muntah setelah itu pingsan."
"Mungkinkah obat yang saya berikan tak pernah diminum olehnya..."
"Setahu saya Via tidak pernah mengkonsumsi obat apapun selama di kampus dok..."
"Mungkin Via harus tinggal di rumah sakit dulu selama beberapa hari untuk meninjau perkembangan penyakitnya."
"Baik Dokter..." Dini langsung keluar dari ruangan dokter yang menangani Via dan menghampiri Niza.
"Za... kenapa Dervia bohong sama kita..."
"Bohong kenapa?"
"Selama ini dia menutupi penyakitnya dan menahan rasa sakit sendirian..."
"Via sakit apa Din?" tanya Niza sambil terisak.
"Kanker otak... dan kini keadaannya makin parah..."
"Tapi..kenapa bisa Din.."
"Aku juga tidak tahu Niza..."
Niza menangis tersedu-sedu sambil terduduk, Dini hanya bisa menenangkan sahabatnya ini sambil memikirkanku.
"Aku pengen jalan-jalan kesitu..."rengekku sambil menunjuk alun-alun kota yang tengah lengang.
"Oke...oke Dervia Arfa..."
Langkahku terhenti karena tiba-tiba aku merasakan pusing di kepalaku yang makin menjadi ditambah lagi aku mual dan akhirnya muntah di pinggir jalan.
"Via kamu kenapa...?" tanya Niza sambil mengelus punggungku, aku hanya bisa menggeleng-geleng sambil mengusap mulutku dengan tisue. Sebenarnya aku sudah tahu kalau ketidak inginanku minum obat pagi ini akan berakibat seperti ini, tapi aku terlalu menganggap enteng semuanya.
"Dervia ayo kita ke rumah sakit badan kamu pucat tuh..."
"Aku nggak apa-apa kok...cuma tadi pagi aku salah makan aja..." aku terpaksa berbohong pada kedua temanku.
"Baiklah jika kamu nggak mau ke rumah sakit, sekarang biar aku pegang tanganmu nanti takutnya kamu gak kuat jalan..."
"Oke...oke..."jawabku dengan senyum manis.
Udara pagi yang menerpaku sejenak membuat rasa pusingku sedikit menghilang setibanya aku di alun-alun kota. Tetapi mendadak aku kehilangan keseimbangan tubuhku dan akhirnya aku terjatuh dan sedikit demi sedikit aku kehilangan kesadaranku. Tentunya kedua temanku langsung terkejut melihatku dan langsung menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Via..."
"Niza ayo kita bawa Via ke rumah sakit keluarganya, tidak jauh kok dari sini"
"Baik din..."
"Bantu aku angkat Via..."
Niza dengan sigap langsung membantu Dini mengangkatku dan beruntungnya ada taksi yang berhenti tak jauh dari alun-alun kota, taksi itu langsung melaju dengan cepat ketika kami bertiga telah masuk di dalam dan mendengar perintah Dini.
setelah 3 jam berlalu akhirnya aku sadar dan kudapati Niza dan Dini sudah berada di sampingku, dan menatapku cemas.
"Serius amat ngelihat gue, biasa aja kali..."
"Kenapa nggak mau bilang yang sejujurnya sama kita...?"
"Cerita apa an?"
"Penyakitmu Via..." kata-kata Niza langsung menohok hatiku, aku cuma bisa melongo mendengarnya.
"Kau sendiri bahkan nggak percaya sama aku, aku padahal teman sekaligus sepupumu..."
Aku hanya terdiam mendengar pernyataan Dini, pikiranku melayang pada kejadian 2 tahun yang lalu disaat orang tuaku begitu mengkhawatirkan keadaan kakakku yang cuma sakit demam dan kelihatannya juga nggak parah. Bahkan ayahku langsung membatalkan janjinya dengan clientnya begitu mendengar kabar bahwa kakakku sakit.semenjak kejadian itu aku tidak ingin membuat orangtua ku khawatir.
"Via..."
"Bisakah kalian merahasiakan penyakitku ini...?"
"Tapi... Vi"
"Kumohon apapun yang terjadi jangan pernah beritahukan pada siapapun termasuk orang tuaku tentang penyakitku..." Aku cuma bisa memandang kedua temanku dengan tatapan haru berharap mereka mengabulkan permintaanku.
"Baiklah Via, tapi kami ingin kamu rajin minum obat sama check up ya..."
"Dan jangan lagi kelelahan..."
"Terimakasih ya..." Aku menangis tertunduk mendengar kalimat kedua sahabatku yang begitu peduli padaku, akhirnya sore hariku di rumah sakit kuhabiskan dengan kesendirian karena kedua sahabatku harus pulang. Suasananya ternyata benar-benar hening berada di kamar rawat inap sendirian, tapi sepertinya keheningan itu tak lama menghantuiku karena nada pertanda panggilan masuk di ponselku. Tentunya langsung kuangkat dan setelah aku mendengar suara dari penelphon hatiku rasanya berbunga-bunga, Dika dialah orang yang menjadi penyelamatku dari kesunyian saat ini dan dialah kekasihku yang selalu dapat kuandalkan, tak lupa orang yang selalu membuatku bahagia.
"Gimana kabarmu...?"
"Baik..." jawabku dengan tersipu malu.
"Tadi aku nyari kamu di kos-kosan tapi kog nggak ada...?"
Hening sejenak, aku bingung harus menjawab apa...
"Oh tadi aku jalan-jalan sama Niza dan Dini..."
"Oh begitu..."
"Lain kali kalau mau datang sms dulu ya..."
"Iya Via sayang..."
Percakapan kami tentunya berakhir sampai aku mulai mengantuk, dan aku pun tak lupa mengucapkan beribu terimakasih tak lupa aku mengucapkan selamat tidur untuknya.
Hari-hariku selama di rumah sakit benar-benar membosankan, meskipun Niza dan Dini selalu tak absen untuk datang menjengukku. Beruntungnya aku hanya 3 hari disini, aku merasa sangat senang karena hari ini sang dokterku telah mengijinkanku pulang. Tentunya aku tidak langsung pulang, aku masih ingin jalan-jalan, dan hal ini sudah pasti membuat kedua sahabatku sekaligus dua orang yang setia bersamaku merasa sangat jengkel. Tapi dengan berakting layaknya anak kecil yang pengen makan permen meskipun sudah dilarang sama orang tuanya, mereka pun luluh dan mau menemaniku.
selama kurang lebih satu jam aku berputar-putar keliling daerah sekitar rumah sakit, tak kusangka ternyata pemandangan di tengah kota Malang ini masih sangat bagus. Aku memilih untuk berjalan kaki daripada naik angkutan.
Menurutku ketika berjalan kaki aku lebih bisa menghayati betapa indahnya alam ini, tanpa sadar pikiranku kembali melayang ketika aku diajak kakekku untuk memancing disungai kecil di sebuah pedesaan yang sangat asri.
"Kakek indah banget..."
"Benarkah...?"
"Iya..." Aku memandang takjub tebing-tebing yang mengapit sungai kecil ini.
"Via suka...?" tanya kakekku sambil melihat alat pancingnya
"Iya kek..." aku tak dapat lagi menyembunyikan senyumku ketika aku kembali memandang pemandangan di sekitarku.
Lamunanku dihancurkan oleh suara bajaj yang sepertinya agak mogok tak jauh dari tempatku dan teman-temanku berjalan. Aku cuma melewati bajaj itu dengan sedikit perasaan kasihan pada bapak-bapak yang sepertinya pemilik bajaj itu.
"Via ayo kita pulang, udah panas nih..." rengek Niza.
"Oke..." jawabku sambil menatap wajah Niza yang terlihat lecek karena sengatan dari sang mentari. Pandanganku teralih oleh seorang anak kecil yang tengah berjalan ketakutan di sepanjang zebra cross, aku bisa melihat sebuah mobil yang sedang melaju kencang akan menghampiri anak itu. Jeritan anak itu membuat tubuhku langsung berlari menyelamatkan anak itu. Suara decitan mobil dan disusul dengan teriakan kedua temanku serta warga sekitar pun tak dapat dihindari. Aku hanya bisa merasakan tubuhku seperti melayang di udara dan ditambah lagi tubuhku terpelanting karena sempat menghantam bagian depan mobil, lebih parahnya lagi aku juga merasakan kepalaku jatuh terlebih dahulu dan sepertinya sempat menabrak kaca depan mobil itu.
Aku terbangun dari mimpiku yang sangat kelam. Aku melihat diriku berada di ruang tunggu rumah sakit. Aku bertanya-tanya alasan mengapa aku berada disini lagi, sempat kulihat Niza berlari dan karena khawatir aku pun mengikutinya.
"Niza mau kemana...?" Aku sempat heran karena Niza sama sekali nggak menjawab saat kutanyai. Aku mengikuti Niza memasuki sebuah ruangan di rumah sakit, bisa kulihat Dini juga berada disana dan dia malah menangis sesenggukan. Aku tidak bisa melihat siapa yang sedang ditangisi Dini karena aku berdiri di dekat pintu tapi setelah aku mendekati Dini, aku begitu terkejut. Aku melihat diriku sendiri tergeletak di ranjang itu lengkap dengan perban di kepalaku. Apa yang kulihat ini nyata..
"Iyalah..." Suara disampingku membuatku langsung menoleh.
"Siapa kamu...?"
"Kamu itu berada di posisi terancam, bisa-bisanya kamu terpisah dari tubuhmu..."
"Aku tidak tahu..."
"Yang kau anggap mimpi sebelumnya itu sebenarnya benar-benar terjadi..."
Aku cuma bisa melongo karena tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Kamu tidak perlu syok begitu, sekarang yang perlu kamu lakukan adalah buatlah 7 kebaikan dan aku akan memberimu waktu 1 minggu, dan aku hanya bisa melakukan maksimal 3 kebaikan dalam 1 hari dan di hari ke-7 pastikan kamu telah melakukan 7 kebaikan karena jika tidak kau tidak akan bisa kembali ke tubuhmu..."
"Kenapa aku harus mempercayaimu, mengenal anda saja tidak..."
"Oh iya kau bisa menyebutku penjagamu..."
"What..?!"
"Aku harap kau bisa melakukannya jika kau masih ingin menikmati hidup ini..."
"Tapi bagaimana aku bisa melakukannya ? Bukannya aku tidak bisa terlihat ?"
"Oh iya lupa lagi, kau akan mulai agak terlihat di hari ke-7 jadi kau harus bergegas kembali ke tubuhmu. Kau bisa melakukannya Via, jika kau bingung coba cari di nama kamu... pergi dulu ya Via see you seven days again..."
"Hey..." Aku mencoba untuk meraih orang itu tapi ternyata tak bisa, bagaimana aku melakukannya hanya itu yang kupikirkan. Apa maksud orang itu dengan mencarinya di nama ku? Aku begitu lelah dengan semua ini, sudah divonis kena kanker otak saja sudah membuatku frustasi apalagi sekarang aku koma, semakin susah saja aku.
Hari ini yang bertepatan dengan hari pertamaku berbuat baik aku cuma bisa merenung. Aku selalu memikirkan maksud dari "coba cari di nama kamu" apa yang terdapat di namaku, tapi disela kebingunganku aku sedikit senang dengan keadaanku saat ini karena aku tidak perlu khawatir menabrak sesuatu. Sampai aku tiba di kampus tempatku bertemu Dika juga Niza, bercanda dengan Dika, aku yang selalu ceroboh disetiap saat dan Dika juga Dini serta Niza yang tak jera untuk menjagaku di kampus ini. Aku merindukan diriku, aku ingin sehat, aku ingin melalui hari-hariku tanpa di bebani jadwal minum obat, aku ingin bebas, tapi meskipun aku selamat dari komaku paling-paling aku juga akan segera mati. Perjalananku berhenti di depan pintu kelasku.
Aku melihat kelas tempat aku belajar, dan pandanganku teralih oleh daftar nama yang tertempel di dinding. Aku memperhatikan namaku lekat-lekat "Dervia Arfa", aku melihat setiap nama dari bawah dan berakhir di nama Arfa Prasetya. Namaku berakhir di Arfa, mungkinkah dia orang yang bisa membantuku. Tapi kenapa aku selama ini tidak sadar kalau ada nama Arfa Prasetya di kelasku, pikiranku berhenti ketika sang mentari menunjukkan kalau sinarnya akan segera pergi dan digantikan oleh kegelapan malam.
Aku memutuskan untuk mencari orang itu besok pagi karena seingatku besok aku biasanya ada kelas pagi. Aku memilih menunggu diriku di kamar inap tempatku dirawat, disana bisa kulihat Dini dan Niza yang setia menemaniku.
Aku mengikuti Dini dan Niza keluar rumah sakit dan menuju ke kampus, aku bisa melihat wajah lelah mereka berdua. Mereka memilih berjalan kaki karena letak rumah sakit tempatku dirawat tak jauh dari kampus. Mataku langsung terbelalak lebar ketika mengetahui Dika berlari menghampiri kami atau lebih tepatnya Dini dan Niza.
"Mana Via...?"
"Via nggak masuk hari ini..." jawab Niza dengan hati-hati.
"Sakit ya, kalau gitu akan ku jenguk sekarang..."
"Tunggu..." Dini langsung memberhentikan Dika, dia memandang haru Niza berusaha mengatakan apa yang selama ini mereka simpan.
"Via di rumah sakit keluarganya..."
"Dia sakit apa?"
"Kalau kamu ingin tahu pergilah kesana di dirawat di kamar Sakura 6..."
Tanpa basi-basi Dika langsung berlari meninggalkan Dini dan Niza yang berdiri mematung. Aku hanya bisa menatap kepergian Dika dengan tangisan haru yang mungkin tak akan pernah ada seorangpun yang akan mendengarnya.
"Cengeng..." sebuah suara mengejutkanku dan aku pun langsung bangkit dan melihat seorang laki-laki yang baru saja melewatiku, aku langsung mengikuti orang itu tanpa menunggu kedua sahabatku yang masih mematung.
"Apa katamu tadi...?"
"Cengeng..." orang itu menatapku tajam, mungkin dia memang memiliki wajah yang tampan dan postur yang tinggi tapi cara orang itu menatapku benar-benar membuatku batal untuk sedikit menyukainya.
"Enak aja kalau ngomong..."
"Emang kenyataan Via..." Aku terenyak saat mendengar orang itu memanggil namaku.
"Minggir sana aku udah hampir telat, eh lo nggak masuk ya... atau mau bolos..."
Aku hanya bisa terdiam, entah kenapa aku seperti disadarkan oleh suara yang mengganggu telingaku " udah tahu kan penolongmu" sotak aku langsung menatap kembali orang itu.
"Namamu Arfa kan...?"
"Iya..."
"kamu..."
"udah ah yuk masuk kelas..." Arfa menarik lenganku tanpa ragu dan dia menyeretku sampai masuk kelas dan dia menyuruhku untuk duduk di bangkuku. Aku memandang Arfa yang tengah mempersiapkan bukunya, dari bangkuku ini memang agak sulit melihatnya tapi karena dia tinggi aku bisa melihatnya. Saat yang paling kukhawatirkan pun tiba, dosenku mengabsen nama-nama muridnya. Aku benar-benar bingung bagaimana reaksi Arfa nanti mengetahui hanya dia yang bisa melihat dan menyentuhku. Semua murid menjawab dengan keras, tapi ketika datang pada namaku keheningan mulai terasa.
"Dervia Arfa..."
Aku hanya diam mematung begitu melihat Arfa menatapku dengan tajam.
"Sakit bu..." Dini pun angkat suara.
Aku menghampiri Arfa dan mengatakan kebenaran yang terjadi padaku, Arfa cuma mengangguk dan sesekali menulis kalimat di bukunya ketika dia ingin bertanya padaku. Aku mengatakan segala kejadian yang menimpaku, dan aku pun memohon padanya supaya dia bisa membantuku. Walaupun diperlukan perjuangan berupa pura-pura menangis dan memperlihatkan ekspresi seperti anak kecil yang pengen dibeliin balon akhirnya Arfa luluh dan bersedia membantuku meskipun dia baru bisa membantu besok tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Setelah menemui Arfa aku memutuskan untuk melihat diriku sendiri.
Kulihat seorang laki-laki yang sangat kucintai menggegam erat tangan yang paling kurindu, tatapannya tak henti berharap orang yang ada dihadapannya untuk bisa terbangun dari tidur lelapnya. Kerutan diwajahnya membuat ketampanannya tak pernah lekang oleh apapun, sejenak aku ingin sekali memeluknya dan memberitahu dirinya kalau diri ini disampingmu. Sekeras apapun diri ini mencoba untuk meraihnya tetap saja tak akan bisa dengan kondisiku saat ini. Dika berada di ruanganku selam 5 jam ia tak kenal lelah menemani tubuhku, ketika ia beranjak keluar aku pun mengikutinya dan entah mengapa tiba-tiba kepalaku merasakan sakit yang luar biasa, aku tidak menyangka kanker otak yang mendiami diriku akan berdampak pada diriku saat ini. Tapi ini sedikit aneh, karena tiba-tiba aku melihat bayangan Arfa yang tertabrak oleh mobil van putih dan ketika aku ingin menyelamatkannya aku langsung tersadar.
Oh apa lagi ini, aku berpikir dengan keras maksud dari penglihatanku tadi. Mungkinkah itu hal yang akan terjadi pada Arfa, menyadari hal buruk akan terjadi padanya Arfa aku pun segera pergi ke kampus menemui Arfa. Langkahku terhenti pada pintu kelasku yang telah terkunci karena hari telah sore, aku berlari mengelilingi kampus tapi tak dapat kutemukan Arfa. Akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali menemani tubuhku di rumah sakit. Semalaman aku cuma berfikir, tak mungkin aku tidur karena arwah tidak perlu tidur.
Ketika sang mentari mulai beranjak dari peraduannya terlihat, aku pun segera berlari menuju kampusku, setibanya aku di kampus aku bisa melihat Arfa tertunduk lesu sambil memandang kalung yang berbandul bulan sabit yang mengkilat diterpa cahaya mentari. Aku menghampirinya dan aku tertegun melihat Arfa ternyata menangis, ya meskipun dengan posisinya saat ini tidak ada orang yang tahu. Sungguh aku benar-benar terpukau oleh ekspresi wajahnya saat ini, dia begitu merasa kehilangan. Namun karena kecerobohanku tanpa sadar tanganku merangkul pundaknya dan dia pun menoleh padaku.
"Oh... Hai..." Sapaku dengan gelagapan.
"Kenapa kau ada disini...?" Tanyanya sambil menghapus air mata yang terlihat samar itu.
"Kamu lupa ya, aku perlu bantuanmu..."
"Oh iya, hari ini aku bisa tapi aku harus ngumpulin tugas ini dulu..."
"Oke, aku tunggu disini..."
Aku memandang pungung Arfa yang semakin jauh meninggalkanku, sungguh wajahnya tadi benar-benar tulus. Pandanganku teralihkan ketika aku melihat Dika sedang berlari, sontak aku langsung berlari mengikutinya dan disana bisa kulihat dia tengah mendekati Arfa. Aku tidak tahu ternyata selama ini Dika mengenal Arfa, tapi sayang aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena jarak kami yang lumayan jauh. Aku memutuskan untuk kembali ke tempat dimana aku menunggu Arfa tadi, kondisiku saat ini membuatku kesepian meskipun tubuhku selalu ditemani Dini dan Niza tapi rasanya kehangatan pertemanan kami tak bisa kurasa. Hampir selama setengah jam aku menunggu Arfa tapi tak ku jumpa juga wajahnya, mataku tak lekang memandang arah kedatangan Arfa nanti. Setelah hampir putus asa aku dikejutkan oleh suara berat dari orang dibelakangku.
"Ayo..."
"Heh ?! Kemana?"
"Katamu pengen nolong orang..."
"Iya sih tapi..." suaraku terhenti ketika aku melihat Arfa berjalan meninggalkanku. Hatiku sebenarnya agak dongkol sih bahkan mungkin rasanya pengen kutendang orang ini, yang bener aja udah aku nungguin lama-lama eh datang-datang malah maen tinggal aja.
Sepanjang perjalanan emang udah aku sengaja nggak ngajak makhluk yang satu ini ngomong, dan lagi-lagi aku dibuatnya marah dengan Arfa yang tiba-tiba berhenti tanpa ngasih kode.
"Aduh Fa...!" Omelku sambil memegang kepalaku yang agak sakit, tapi ini menurutku aneh karena biasanya aku kan bisa nembus apapun tapi kenapa si Arfa nggak ya, atau mungkin itu juga alasan si Arfa kemaren bisa maen tarik tanganku.
"Kamu lihat Ibu disana itu..."
Tanpa berkata-kata lagi aku segera memandang seorang Ibu yang dimaksud Arfa.
"Kita kesana." Kata-kata Arfa yang tanpa basa-basi itu sempat membuatku gelagapan.
Arfa langsung menolong seorang Ibu yang kelihatannya petugas kebersihan tengah membersihkan pinggir jalan sendirian, dia langsung mengambil sapu lidi yang terletak tak jauh darinya dan meminta persetujuan Ibu itu untuk bisa menolongnya membersihkan pinggir jalan yang lumayan kotor itu.
Aku cuma bisa berada di samping Arfa sambil menemaninya dengan mengajaknya ngobrol sesekali tapi sayangnya dia selalu merespon dengan cuek. Tapi aku tak peduli dengan hal itu bagiku dia mau menolongku saja sudah bagus. Arfa menyapu sepanjang jalan menuju sebuah perempatan yang jaraknya kurang lebih 600 meter dari tempat kamu mulai tadi, dia tampak berkeringat tapi bagiku Arfa tetap keren, gagah, ganteng...eh tunggu-tunggu bukannya aku udah punya Dika yang juga ganteng bin keren aduh kesalahan, gimana mungkin aku bisa bilang hal itu. Ternyata perdebatanku dengan diriku sendiri itu menarik perhatian Arfa.
"Lo kumat ya..."
"Apa lo bilang, enak aja..." bantahku sambil memandang kearah senyum Arfa yang baru kulihat hari ini. Sungguh dia sangat manis.
"Ayo kita pergi lagi..."
"Iya..."
Tak lama kami berjalan dan Arfa pun menemukan target selanjutnya, seorang nenek yang tengah kebingungan untuk menyeberang. Pandanganku tak lekang ketika melihat senyum tulus Arfa yang ia tunjukkan kepada nenek itu, tanpa kusadari senyumku merekah bebarengan ketika Arfa kembali menghampiriku, karena aku tidak mau kelihatan jadi stalker akupun segera mengalihkan pandanganku darinya.
"Ma'af lama..."
Aku cuma tertegun mendengar Arfa meminta ma'af padaku, sungguh benar-benar langka momen ini.
"Mau kemana setelah ini kamu ?"
"Biasanya aku kalau udah sore nunggu tubuhku di rumah sakit sambil sesekali mendengar candaan Dini dan Niza"
"Siapa mereka?"
"Oh... mereka sahabat karibku..."
"Oh..." hah, Arfa mulai lagi cueknya, benar-benar membuatku pengen nendang orang ini.
"Kamu kenal dengan Dika...?" Tanyaku mencairkan suasana yang sempat vakum.
"Iya, tapi nggak terlalu akrab..."
"Arfa..." panggilku dengan nada manja.
"Apa ?"
"Bisakah aku menginap di rumahmu ?" tanyaku dengan sangat hati-hati.
Arfa tampak berfikir sebentar sambil menimbang-nimbang, dan Akhirnya satu jawaban pun muncul.
"Ya..." Aku bingung harus menanggapi apa antara senang karena diperbolehkan atau tidak karena dia sangat cuek bin abis. Akhirnya dengan senyum yang tergolong sangat terpaksa aku pun bilang "Makasih Arfa kamu baik banget deh..."
Kami berjalan pulang kerumah Arfa dengan sejuta kediaman sampai dia menolong seorang anak kecil yang jatuh dari sepeda tak jauh dari rumah Arfa dan setelah menolong anak itu Arfa pun mulai mengajakku bicara meskipun terkadang dia cuma diam.
Ketika aku sampai di rumah Arfa aku cuma menguntitnya dari belakang meskipun nggak akan ada orang yang tahu aku tapi aku harus menjaga sopan santun sampai aku menabrak tubuh tinggi Arfa yang tiba-tiba berhenti dadakan lagi.
"Aduh Fa..."
"Ma'af,..."
Mataku terbelalak ketika melihat kamar Arfa yang berisi banyak buku dan foto-foto yang ia kumpulkan dan mungkin dia mengumpulkan foto itu sejak SD, terlihat dari seragam yang dia kenakan. Dan mataku tertuju pada sebuah foto yang menunjukkan latar di jalanan sepi dan seorang gadis yang bersepeda membelakangi arah kamera.
"Ehm Fa, itu kenapa objeknya membelakangi kamera...?"
"Privasi..." wah benar-benar ni orang udah buat gue dongkol tingkat atas.
"Oke...!"jawabku dengan sedikit membentak.
Sepanjang malam kulalui dengan berbincang-bincang dengan Arfa atau lebuh tepatnya aku yang kebanyakan ngomong ,dan ketika dia mau tidur aku pun memutuskan untuk pergi ke tempat asalku, rumah sakit. Entah aku mulai hidup atau mungkin malah makin parah yang jelas aku terkejut ketika mengetahui tubuhku terbaring di kursi tunggu dalam ruanganku dan menemukan kalau hari ke empat dan hampir seluruh hari kelimaku cuma aku habiskan untuk tertidur, aku benar-benar tak bisa mempercayai hal ini. Aku segera berlari ke rumah Arfa ketika mengetahui aku terbangun di malam pada hari ke lima ku. Sebenarnya apa yang terjadi, hatiku semakin kalut ketika kutemukan Arfa telah tidur pulas dan aku tidak mungkin bisa meminta Arfa berbuat baik hari ini. Aku menunggu Arfa bangun di tempat belajarnya, sejenak aku melihat sebuah benda yang menyilaukan mataku, ketika kudekati ternyata itu kalung yang membuat Arfa tertunduk haru kemarin. Kuamati lekat-lekat kalung itu dan entah mengapa aku begitu mengenal kalung itu, ternyata benar ini adalah kalungku dan orang yang ada di foto itu pasti aku karena sepeda itu mirip dengan sepedaku bahkan aku masih sangat ingat dengan seorang anak laki-laki yang selalui kujumpai setiap pagi di jalan itu, juga orang yang dulu sempat sangat kucintai. Itulah alasan mengapa aku sempat mengenali wajah Arfa.
Kalung ini adalah kalungku yang hilang ketika aku berangkat dengan tergesa-gesa pagi itu, mungkinkah Arfa menungguku...? Oh aku benar-benar bingung sekarang. Ternyata kehadiranku tadi diketahui oleh Arfa, aku melihatnya menatapku penuh amarah.
"Kemana saja kau kemarin?"
"Aku...aku..." aku cuma bisa tergagap melihat Arfa menatapku.
"Kau pasti tahu tentang kalung itu, iya kan..."
"Mungkinkah ini milikku...?" Tanyaku dengan mataku yang ikut berkaca-kaca.
"Iya untuk sekarang"
"Kenapa baru sekarang?" tanyaku sambil menatap Arfa tak percaya.
"Karena orang yang memiliki kalung itu adalah orang yang memandangku dengan rasa suka yang entah dari mana aku bisa merasakannya" jawab Arfa sambil mengusap fotoku dulu.
Sejenak aku tidak percaya bagaimana Arfa bisa mengatakan hal itu, bukankah dia sudah tahu kalau aku pacarnya Dika. Aku menaikkan kepalaku untuk memandang Arfa.
"Fa, bukankah kau sudah tahu jika aku pacarnya Dika?"
"Aku tahu, tapi saat ini kau datang padaku dan aku tak melihatmu bersamanya beberapa hari ini jadi kupikir aku bisa mengharapkanmu"
"Aku tidak bersama Dika karena dia tidak bisa melihatku Fa" jelasku sedikit membentak.
"Lalu aku tidak melihatnya bersamamu nona cantik"
"Kau tak tahu saja" jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"Oke...Oke... alasanku menunggumu adalah kau lah cinta pertamaku, dan aku tidak mau kau meninggalkanku lagi, juga aku berharap kau akan ada terus disampingku ketika aku berada dalam titik kelemahanku" jawab Arfa sambil memegang pundakku.
"Fa..."kalimatku terputus ketika aku merasakan kepalaku berdenyut begitu menyakitkan aku bahkan tak bisa menyangga tubuhku sendiri hingga membuatku jatuh tersungkur di depan Arfa.
"Via...!" Arfa memegangku dan memangku tubuhku.
"Fa antarkan aku ke tubuhku"
Arfa memacu motornya dengan kecepatan delapan puluh km/jam, dia melihat kebelakang untuk melihat keadaanku. keadaanku mungkin tidak memungkinkan bagiku untuk berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju tempatku dirawat tapi aku tidak ingin membuat Arfa menjadi pusat perhatian karena menggendongku. Meski aku berjalan dengan tertatih-tatih tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menolak uluran tangan Arfa.
Setibanya aku disana aku begitu terkejut melihat Dika, Dini, dan Niza berada di luar kamarku sambil menangis sendu, aku bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi padaku? Aku menembus tembok di ruanganku, aku benar-benar tak kuat melihat tubuhku sendiri. Benarkah ini tubuhku, kulihat tubuhku kejang-kejang lalu semburat merah khas darah keluar dari hidungku. Aku berjalan mundur menjauhi tubuhku hingga aku menyadari menabrak tubuh Arfa yang tengah berbicara di luar ruanganku dengan Dika. Arfa mengedipkan sebelah matanya dan memberi isyarat untuk mendengarkan.
"Parahkah keadaannya?"
"Iya, tadi dokter bilang kanker otaknya sampai di stadium akhir, dan..." Dika tak mampu untuk menyelesaikan kalimatnya, Arfa menepuk-nepuk pelan pundak Dika untuk menguatkannya.
"Pasti dia akan baik-baik saja Dik"
"Aku berharap seperti itu Fa tapi sudah tak ada lagi harapan baginya"
Napasku tercekat menahan air mataku yang semakin berderaian, aku masuk kembali ke kamar tempatku dirawat, dan menunggu tubuhku yang saat ini begitu lemah.
"Kau tak apa?" Tanya sebuah suara dari sampingku.
"Adakah harapanku untuk hidup?"
"Ada, dan malaikatmu telah menyelesaikan ke tujuh kebaikan untukmu tanpa sepengetahuanmu"
"Benarkah?" tanyaku dengan menoleh.
"Iya sayang dan ini reaksi yang normal bagi tubuhmu" terangnya sambil menatapku halus."Tapi ma'af untuk penyakitmu, aku tidak bisa membantu"
"Aku boleh bertanya?"
"Pasti mengenai mimpimu kemarin kan" tebaknya dan sangat tepat, sehingga aku pun hanya bisa mengangguk lemah.
"Pastikan untuk menjaganya, soal mimpimu itu bisa dikatakan kau melihat masa depan jadi kau tahu kan apa-apa yang perlu kau lakukan untuk menjaganya"
"Bagaimana jika aku gagal penjagaku?"
"Itu takdir" jelasnya singkat.
"Terimakasih" kataku pada Arfa yang tengah menunggu di ruang tunggu dengan yang lain. Arfa mengeluarkan ponsel pintarnya dan mengetikkan sesuatu lalu agak dicondongkan kearahku supaya aku bisa melihat yang tertulis disana, untuk?
"Kebaikannya"
oh iya sama-sama, lalu Arfa mengetikkan lagi. Ma'af untuk baru datang sekarang, aku tahu kau dulu menugguku kan.
"Iya tidak apa-apa, dan terimakasih untuk menjadi penolongku" ucapku tulus. "Kau tahu Fa, sekarang ini aku ingin sekali menguatkan orang yang berdiri dihadapanku dengan kepura-puraannya untuk tetap tegar"
Diam Arfa tidak menulis apapun apapun di ponselnya, dia malah berjalan maju dan dia mengajak Dika pergi keluar, lalu aku pun mengikuti dari belakang sampai kami tiba di parkiran depan.
"Ada apa Fa?"
"Kau pasti merindukan Via kan"
"Apa maksudmu?"
"Via ada disini Dik" kata Arfa enteng.
"Hei jangan bercanda"
"Aku serius Dik"
"Kalau Via ada disini sekarang aku pasti sudah melihatnya Fa, jangan becanda dong"
"Dia begitu cantik sekarang dengan bajunya yang begitu simpel, tanpa make up dan rambutnya yang tergerai lembut di pungggungnya menambah aksen kecantikannya" terang Arfa sambil menghadap lurus kearahku.
"Fa..."
"Dia segalanya bagimu kan, jadi jangan pernah menjauh dari tubuhnya, jaga dia dan juga dia akan segera bangun untuk menyapamu" Arfa menjelaskan dengan satu tarikan nafasnya yang mantap, "Aku yakin dia selalu berharap untuk bisa melihatmu disaat ia terbangun dari tidur panjangnya"
"Fa aku akan melakukannya, memang itu yang ingin kulakukan"
"Baguslah, kalau begitu terimakasih untuk mendengarkanku" ucap Arfa lalu berlalu meninggalakan Dika. Selama di perjalanan pulang Arfa menyesali semua perkataannya tadi.
"Terimakasih Arfa" ucap Via sambil memeluk Arfa dari belakang.
"Apa ini"
"Tetaplah begini kumohon, because it might be last chance"
"Hei kamu kenapa Via?" tanya Arfa sambil memegang tanganku yang mengapitnya.
"Tidak apa-apa, hanya aku ingin begini saja" jawabku dengan menahan air mata.
Arfa terdiam sambil mengelus tanganku yang mengapitnya dan saat ini bisa kurasakan tubuh hangat Arfa yang begitu menghangatkanku. Aku melepaskan pelukanku setelah kusadari bahwa semakin aku bersama Arfa seperti ini akan hanya menyisakan rasa sakit saja, aku melangkah keluar kamar Arfa namun tangan Arfa menghalangiku dan aku pun langsung menoleh kearahnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Arfa sambil mengeratkan genggamannya
"Menemani tubuhku" jawabku sambil mencoba melepaskan genggaman Arfa yang ternyata sulit untuk dilepas.
"Tidak maukah kau menemani tubuh ini?"
"Fa..."
"Oke...Oke Vi" Arfa akhirnya melepaskan tanganku dan aku segera berjalan cepat keluar keluar karena aku tak sanggup lagi menahan air mataku yang selalu ingin keluar ketika melihat wajahnya.
"Dika" ucapku sambil mencoba meraih bahunya yang tentunya tidak akan berhasil. Tangan Dika menggenggam erat tanganku dan dengan posisi tidurnya saat ini ternyata kekerenannya tak berkurang sedikit pun. Aku menemani Dika dengan duduk di lantai, dibawahnya tapi sedikit ke sampingnya dan mungkin aku tak bisa membuat Dika melihatku tapi setidaknya hal ini sudah cukup membuatku bahagia. Dika terbangun tepat pukul enam pagi lalu dia mengelus lembut rambutku.
"Tidur yang nyenyak ya Via, kutunggu kau bangun kembali dan kuharap orang pertama yang kau sapa adalah aku"
"Iya Dika...Iya..." jawabku sambil menangis dihadapannya, "Aku disini Dika, aku selalu menyapamu Dika, Dika..."
"Bye Vi" ucap Dika sambil melambai ke tubuhku lalu berlalu pergi, dan aku tak sanggup melihatnya pergi sehingga aku pun berlari dan terus mencoba meraihnya meski hal ini berakhir dengan tangisan sesenggukanku di lorong rumah sakit.
Aku terduduk lemah di lantai rumah sakit, dan merasakan sesosok tinggi melihat ke arahku tapi aku tak memedulikannya.
"Udah selesai nangisnya?"kata orang itu, "Ditanya malah diem, gue tinggal aja"
Sebelum orang itu hendak keluar aku menggenggam tangannya erat dan menoleh lelah ke arahnya.
"Bisa kita bicara sambil menjengukku?" pintaku.
"Tentu" jawabnya mantab.
Arfa mengikutiku masuk ke ruanganku kecuali dalam hal menembus pintu, Arfa duduk di tempat biasanya Dika duduk untuk menungguku sedangkan aku berdiri tentunya.
"Fa apa kau masih ingat hari dimana kau menemukan kalungku?"
"Ingat tentunya, karena di hari itu kau nampak terburu-buru sekali tanpa tahu keberadaanku yang ikut melihatmu " jawab Arfa agak bermasam muka.
"Kau tahu alasanku terburu-buru waktu itu karena aku telat bangun dan..." aku mengambil napas sekenanya untuk melanjutkan kalimatku, "juga karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihatmu meskipun itu barang sedetik saja" kataku tulus. "Tapi sebelum bertemu denganmu tugasku waktu itu belum kukerjakan aku jadi melupakanmu."
"Sekarang masihkah kalimat yang kau ucapkan untukku akan kau lakukan?"
Deg... aku tidak menyangka Arfa akan menanyakan hal itu padaku sekarang, pikiranku terlalu kalut untuk menjawabnya sekarang alhasil aku hanya mematung untuk membiarkan otakku menyusun kalimat yang cocok untuknya.
"Tidak"
"Kenapa?"
"Karena keadaannya sekarang berbeda, kau masih punya kewajiban untuk hidup bahagia bersama orang lain, dan aku punya kewajiban untuk membahagiakan orang yang kucintai setelahmu, dia jugalah orang yang telah memberiku harapan baru untuk tetap bahagia"
"Via untuk sekarang sampai hari ke tujuhmu tiba tak bisakah aku memilikimu?"
"Fa..."
"Kumohon Vi" pinta Arfa dan sekarang aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya aku pasrah saja.
"Tentu" jawabku dengan tersenyum ke arah Arfa.
"Terimakasih Vi" ucap Arfa sambil memelukku, sementara Arfa bahagia aku cuma bisa menangis di balik pelukannya memikirkan hal yang akan terjadi padanya.
Aku berjalan santai disamping Arfa mengelilinngi kota, hingga kami berhenti pada sebuah kebun apel yang sangat luas dan dipenuhi oleh buah apel yang masih tersangkut di batang pohonnya. Kami mulai berlarian kesana kemari untuk bermain kejar tangkap, aku nggak nyangka Arfa cepet banget larinya sedangkan aku hampir jatuh sendiri karena kakiku. setelah lelah berlari Arfa mengjakku untuk duduk di ujung kebun dan memandang ke arah bukit tak jauh dari kebun ini. Mataku tak henti-hentinya memandang takjub pemandangan di depannya, sungguh indaaah banget. Pandanganku teralihkan ketika tangan Arfa menyentuh tanganku dan aku langsung menoleh kearahnya.
"Kenapa Fa?"
"Aku suka melihatmu tersenyum tadi" kata Arfa sambil tersenyum kearahku dan aku cuma senyum cengengesan untuk membalas perkataannya.
"Tapi untuk senyum ini perlu di delete aja ya Vi" ucap Arfa lagi, lalu aku kembali menunjukkan senyumku kearahnya.
Entah mengapa kurasa hari ini berjalan dengan sangat cepat sekali, kami pulang dari kebun itu sekitar pukul lima sore. Aku lebih memilih ikut Arfa ke rumahnya, sesampainya kami disana Arfa langsung mandi dan aku menunggu di kamarnya. Aku sangat menikmati suasana di kamar Arfa karena selain rapi, juga penuh dengan foto-foto yang tertempel rapi di dinding yang menurutku indah dengan cerita dari masing-masingnya. Tidak tahu kenapa tubuhku kembali tidak seimbang dan akhirnya aku malah jatuh tertunduk dengan merasakan kepalaku yang begitu berdenyut sakit sekali mirip dengan rasa sakit yang kurasakan dulu bedanya sekarang ada orang yang mengkhawatirkanku dan menghampiriku disaat seperti ini.
"Vi kamu kenapa?" tanya Arfa khawatir.
"Ehm...nggak kenapa-napa Fa cuma pusing saja" jawabku sambil menatap ramah ke arah Arfa.
"Mau kuantar ke rumah sakit? Siapa tahu dengan kamu dekat tubuhmu akan baikan"
"Nggak usah Fa, aku kuat kok" jawabku sambil meraih meja di dekatku untuk membantuku berdiri, "Fa aku pulang dulu ya"
"Iya, hati-hati ya Vi" pesan Arfa dan aku hanya mengangguk untuk menanggapinya. Aku berjalan dengan lunglai setelah berusaha pura-pura tegar dari rumah Arfa. Ternyata sakit kepalaku semakin menjadi-jadi terlebih sekarang tubuhku mulai benar-benar kehilangan keseimbangan dan aku juga merasakan kesulitan bernapas setelaah itu semuanya terasa begitu gelap.
Aku terbangun di ruangan yang begitu asing dengan dipenuhi dengan warna putih, disana aku melihat tubuhku mulai mendekatiku dan menatapku.
"Kembalilah untuk Dika, jangan pedulikan dia" kata tubuhku sambil menunjuk kearah tubuh yang tergeletak lemah di ujung ruangan dengan bersimbah darah, mataku terbelalak ketika melihat baju yang ia kenakan, Arfa.
"Arfa...!" teriakku sambil berlari kearahnya, aku memangku tubuh Arfa di pangkuanku dan mengguncangkan tubuhnya."Fa jangan tinggalkan aku! kembalilah!"
"Pilihlah untuk siapa kau kembali, karena waktumu tak lama lagi" kata tubuhku yang semakin lama pergi menjauhiku begitu pula dengan Arfa yang menghilang, detik berikutnya mataku terkejap-kejap ketika melihat cahaya lampu di ruanganku dan banyak orang yang ada di ruanganku termasuk Kakak serta orang tuaku.
"Via ini Ibu nak"ucap Ibuku sambil mengelus rambutku. Aku menghampiri Ibuku dengan penuh rasa rindu yang selama ini mendekam di dalam hatiku,"Ibu aku disini Bu, aku sangat merindukan Ibu. Ibu tahu Ibulah orang yang paling kucintai di dunia ini dan itu tak akan berubah sampai kapanpun" kataku penuh haru sambil terus mencoba memeluk Ibuku. Aku terperanjat ketika merasakan tanganku ditarik oleh seseorang dan aku tahu kalau itu adalah Arfa.
"Didalam panas ya Vi" kata Arfa sembari melepaskan pegangannya begitu di luar rumah sakit. Aku cuma bisa mengangguk pasrah menanggapinya
"Hari ini hari terakhir aku memilikimu kan Vi" kata Arfa tiba-tiba
"I..iya" jawabku tergagap. Suasana hening kembali menghinggapiku, aku bingung hal apakah yang harus kukatakan padanya.
"Yuk jalan-jalan Vi" ajak Arfa dan aku cuma menjawab dengan anggukan.
"Tunggu ya, aku ambil motorku dulu", aku menunggu Arfa di depan rumah sakit hampir sendirian karena ketika aku menoleh ke pintu rumah sakit Dika tengah berlari kearahku atau tepatnya menembusku. Ternyata dia ingin ngobrol sebentar dengan Arfa, aku tidak begitu mendengar hal apa yang dibicarakan oleh kedua manusia itu jadi aku penasaran banget. Beberapa menit kemudian Dika kembali berlari ke dalam rumah sakit dan Arfa langsung melambaikan tangannya kearahku pertanda menyuruhku naik sih sebenarnya.
Bayanganku tentang banyak orang ternyata pupus juga, kupikir Arfa akan mengajakku ke alun-alun kota atau tempat bermain atau museum eh ternyata di sebuah taman yang begitu sepi banget entah bagaimana manusia satu ini mengetahui tempat yang indah seperti ini.
"Terkejut?"
"Iya, kok sepi banget ya Fa?"
"Nggak juga ada kau dan aku"
"Fa..."
"Iya...iya Vi, ini taman milik Pamanku, luas sih tapi ia tak berniat membuka untuk umum. Biasanya aku dan adikku yang kesini sekedar untuk jalan-jalan"
"Jam berapa ini Fa?" tanyaku tiba-tiba.
"Roh sepertimu ternyata juga pengen tahu jam berapa ya?"
"Fa..."kalimatku terhenti ketika tiba-tiba Arfa memelukku begitu erat dengan masih mengenakan jaketnya yang tadi belum sempat dilepas, hangat banget.
"Jangan pernah menanyakan padaku jam berapa untuk hari ini, bagiku tiap detik bersamamu sangat berarti dan aku tak ingin tahu ini jam berapa sekarang perasaanku begitu menyakitkan mengetahui pergantian jam yang telah habis kulalui saat bersamamu"
"Fa meskipun aku hidup kembali kamu kan masih bisa bersamaku"jawabku sambil menatap kearah Arfa
"Iya tapi rasanya tak akan sama seperti saat ini"sanggah Arfa sambil menatapku kembali dan Arfa memelukku dengan begitu erat hingga aku tak dapat lagi merasakan dinginnya udara di sekitarku.Aku cuma bisa berdoa agar Arfa tidak melepas pelukannya untuk saat ini, ini begitu menguatkanku untuk tetap hidup.
"Fa maukah kau tetap disisiku sampai hari ke tujuhku berakhir" pintaku sambil melepas pelukan Arfa untuk menatapnya.
"Bukankah itu sudah kulakukan?"
"Maksudku jangan pernah menjauh dariku dan tetaplah berada disampingku"
"Iya Cintaku" jawab Arfa sambil memegang kedua pipiku
"Keliling yuk Fa, udah nggak sabar nih" pintaku manja lalu mulai berlari dan Arfa pun mengejarku lalu memegang tanganku.
Indah sekali pemandangan kebun disini dengan hiasan pintu masuk yang berselimut bunga yang indah tampangnya, lalu dilanjutkan jajarang pohon besar di pinggir kebun yang sarat akan kerindangannya dan diujung kebun terdapat pondok kecil dengan balutan kayu jati yang sangat kokoh. Menurutku kebun ini sederhana penataannya tapi indah yang ditata.
Ketika aku bersantai dipondok Arfa berlari kearahku dan menyodorkan seikat bunga yang baru ia rangkai dengan indah, "Will you be with me my love?" tanyanya sambil berjongkok dengan satu kaki ditekuk ditambah dengan senyumnya yang menawan membuatku terpaku sesaat menikmati tampannya orang di depanku.
"Yes, for today"
"Really?"
"Then i'll say that i'll never waste this change"
"Terimakasih Via sudah hadir dalam hidupku, meski hanya sebentar tapi aku sangat menghargainya, mungkin aku memang terlalu egois untuk selalu berharap untuk memilikimu tapi itulah doa yang selalu kuucapkan sejak aku melihatmu"
"Dulu aku juga berharap hal yang sama tapi ketika Dika mulai mengisi hari-hariku semua doa itu entah mengapa lebuh tertuju pada Dika, meski aku sangat merindukanmu tapi aku tidak tahu mengapa aku tidak memikirkanmu ketika doa itu kuucap. Kehadiranmu di hatiku sudah lama bergantai dengan Dika dan ma'af jika aku harus mengucapkannya sekarang, ma'af untuk baru mengenalmu sekarang, ma'af...untuk baru hadir sekarang untukmu" ucapku dengan menahan air mataku tapi kurasa aku tidak bisa melakukannya karena ternyata deraian air mata telah mulai membasahi pipiku.
"Hei jangan menangis" Arfa memegang kedua tanganku dan mulai menatapku lagi tapi apa yang ia lakukan tak bisa menghentikan apa yang kulakukan saat ini.
Setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mengehntikan tangisku, sebuah rangkulan hangat membuatku menoleh ke arah samping dan si pemilik rangkulan itu langsung menyematkan sebuah bunga yang sangat indah di telinga kananku.
"Cantik sekali"
"Terimakasih" ucapku sambil tersenyum tulus
"Mau berfoto?" pinta Arfa.
"Tapi nanti aku nggak kelihatan"
"Kau tahu alasan mengapa aku menyematkan bunga itu?" tanyanya dan aku cuma menggeleng pasrah.
"Untuk mengetahui kau telah nyata apa belum, menurut artikel yang pernah kubaca biasanya roh yang hilang dari tubuhnya akan mulai mendapatkan ciri-ciri kehidupan lagi di hari ke tujuh" jelas Arfa.
"Ehm...kalau begitu ayo berfoto" ajakku
Arfa langsung mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai mengajakku mencari spot yang bagus untuk berfoto. Ternyata benar kata Arfa walaupun ia belum kuberitahu apa-apa yang dapat terjadi di hari ke tujuhku tapi intinya dia memang benar, dan aku nampak di foto itu meski pada foto lain ada juga yang cuma bayangan tapi setidaknya ada yang kelihatan. Arfa tertawa geli ketika melihatku tidak ada di beberapa foto dan aku juga tertawa ketika melihat sebuah foto dengan gaya aku menonjok Arfa tapi setelah foto itu terambil ternyata gayaku tadi belum berubah dan ketika aku ingin ganti gaya tanganku malah benar-benar menonjok Arfa
Senyumku terhenti ketika matahari mulai menunjukkan akan pulang ke peraduannya. Rasanya hatiku pecah berkeping-keping ketika aku sadar kalau seseorang yang sangat kurindukan dulu akan pergi dariku. Terlalu cepat memang, seharusnya aku dulu menunggunya, seharusnya aku dulu selalu mencari tahu tentangnya, seharusnya aku dulu mengenalnya.
"Mari pulang" ajak Arfa tiba-tiba.
"Oh...Oke" jawabku sedikit tergagap.
"Vi..." kata-kata Arfa terputus ketika ia mengetahui telfonnya berdering dan langsung berlari menjauh karena sepertinya ada panggilan masuk. Setelah beberapa menit kemudian Arfa menghampiriku dan segera menggandeng tanganku.
"Fa kenapa ini?"
"Teman lama ku lagi ngadain reuni dadakan di kafe dekat rumahku"
"Tak bisa kah kau tak hadir...ehm...maksudku besok saja kamu meminta untuk bertemu"
"Udah banyak yang nunggu soalnya Vi"
Arfa memacu kecepatan motornya diatas 80 km/jam, meski aku merasa sangat kedinginan karena ini sudah malam tapi aku menguatkan diriku untuk tidak mengeluh. Aku menyuruh Arfa untuk menurunkanku di rumahnya karena aku sangat khawatir dengan mimpiku beberapa hari yang lalu. Kami tiba di rumah Arfa sekitar pukul 7 malam, ketika Arfa hendak pergi lagi aku segera meraih tangannya.
"Kumohon temani aku ya Fa"
"Vi cuma sebentar kok paling cuma 1 jam, kamu tunggu aja di kamarku"
"Fa aku benar-benar memohon padamu kali ini tolong lakukan apa yang aku katakan, kumohon" pintaku tertunduk lesu.
"Baiklah"
Akhirnya Arfa mau menuruti perkataanku dan kami berdua pun akhirnya bercakap-cakap di kamar tapi ponsel pintar Arfa selalu mengisyaratkan ada pesan masuk dan itu sangat menggangguku.
"Vi aku pergi bentar ya" kata Arfa sambil berlari keluar
"Tapi Fa..." cegahku sambil meraih tangan Arfa erat.
"Aku akan kembali" kata Arfa sambil melepas tanganku dan berlari keluar, sontak aku langsung mengikuti Arfa namun kecorobohanku terjadi, aku tersandung kakiku sendiri lagi hingga membuat jarakku dan Arfa makin jauh.
Meski aku tak yakin tapi aku masih bisa melihat Arfa yang tengah berlari di pinggir jalan, aku sedikit bersyukur setidaknya dengan keadaanku yang masih tembus pandang aku bisa dengan cepat mengikuti Arfa. Hingga Arfa berhenti di depan zebra cross, aku masih belum bisa meraih tubuh Arfa lalu entah mengapa Arfa tak sadar jika ada sebuah mobil yang tengah oling hendak menabraknya, tubuh Arfa seperti terdiam membeku di badan jalan tanpa ada keinginan untuk berlari.
Brakkk
Kerumunan orang mengamati mobil yang terhenti setelah mengalami oleng, mereka membantu seorang laki-laki yang tengah tersungkur di jalan.
"Kau tak apa nak?" tanya salah seorang bapak-bapak yang membantunya.
"I..iya...tapi" kata laki-laki itu lalu menoleh ke arah mobil dan melihat seorang gadis yang tadi mendorongnya tak sadarkan diri tak jauh darinya. Dia langsung menghampiri gadis itu begitu melihat wajahnya.
"Via...Via...!" teriaknya sambil memangku tubuh gadis itu, ia telah berusaha menggoncangkan tubuh gadis itu tapi gadis itu tak menunjukkan tanda sadar. "Via...jangan pergi kumohon...Via...!" teriaknya lagi sambil memeluk tubuh gadis itu.
Perlahan tubuh gadis itu mulai menghilang tanpa meninggalkan bekas apapun, hanya kenangan dan sebuah permintaan yang tak sempat terkabulkan hingga begitu menyesakkan dada. Jika diijinkan sungguh Arfa tak apa menukarkan nyawanya untuk gadis yang sangat ia cintai dan sampai kapanpun tak akan pernah berubah.
Sementara itu di rumah sakit...
"Tante Via kenapa?" tanya Dini ketika melihat Ibu Via terhuyung lemas setelah keluar dari kamar Via.
"Via...Via...kritis" ucap Ibu Via dengan menahan tangisnya.
"Kenapa?" tanya Dini kalut.
"Dokter masih menanganinya" jawab Ayah Via dengan tegar.
Sementara itu Niza, Dika, dan Kakak Via baru datang dari membeli beberapa cemilan, dari kejauhan Niza berlari ke arah Dini dan ketika ia memandang wajah Dini yang tengah menangis serta Ibunya Via yang tertunduk lemas sontak Niza menjatuhkan belanjaannya.
"Ada apa Din?" tanya Niza ragu-ragu.
"Via..." jawab Dini namun ia tak bisa meneruskan kalimatnya karena lidahnya begitu kaku saat ini. Merasa mengetahui hal buruk yang terjadi Dika dan Kakak Via yang baru saja hendak bertanya mengurungkan niat mereka, Dika langsung berlari ke pintu kamar Via dan berusaha membukanya namun dengan cepat Ayah serta Kakak Via menghentikannya.
"Hentikan Dik" kata Kakak Via sambil memegang tangan Dika kuat.
"Via akan baik-baik saja" tambah Ayah Via.
"Via...Via...!"
Selang beberapa menit dokter keluar dan langsung menemui Ibunya Via.
"Kami minta ma'af, kami sudah berusaha semampu kami tapi Via tidak terselamatkan"
"Tante...!" teriak Dini sambil membantu Ibunya Via yang terhuyung akan jatuh.
"Nggak ini nggak mungkin Dokter Via masih hidup!" tolak Dika keras
"Kami minta ma'af sekali tapi kami telah melakukan semampu kami tapi pasien tidak dapat kami selamatkan"
"Bisa kami bertemu masuk Dok?" tanya Ayah Via hati-hati.
"Tentu, silahkan"
"Via" kata kakakku sambil mengelus lembut rambutku, "Hei kau punya janji padaku kan adikku yang paling ceroboh di seluruh dunia, jadi jangan pergi dulu dosa lo Vi" kata kakakku lagi menguatkan dirinya.
"Kak sudahlah" ucap Ayahku
"Nggak Yah, Via masih hidup aku tahu itu" bantah Kakakku
"Kak Via udah nggak akan bisa lagi disini"
Kakakku menangis haru ketika akan membantah lagi kata-kata Ayahku, mesin pendeteksi denyut jantung yang lebih membuatnya terpukul karena tidak menunjukkan tanda kehidupanku. Setelah beberapa menit berada di kamarku Kakakku akhirnya mau diajak keluar ketika petugas rumah sakit hendak mengurus tubuhku.
"Tunggu!" teriak salah seorang perawat yang hendak mematikan detektor denyut jantung, "Dia masih hidup" katanya lagi dengan tidak percaya.
"Panggil dokter cepat" teriak salah seorang perawat lainnya.
"Ma'af sebaiknya kalian tunggu di luar saja"
Akankah kau baik-baik saja?
Masihkah kau ada di dunia ini?
Tak bisakah kau mendengar rintihan hatiku karena merindumu?
Banyak sekali pertanyaan yang berkelebat di kepala Arfa yang ingin ia tanyakan sesampai ia di rumah sakit, namun ketika dari kejauhan ia melihat keluarga Via saling menangis haru segala ketegaran yang ia kumpulkan entah mengapa hilang dalam sekejap.
"Apakah Via baik-baik saja?" tanya Arfa dengan hati-hati pada Dika.
"Kuharap begitu"
"Apa yang terjadi barusan?"
"Via baru saja kritis dan sekarang dia udah mulai bangun"
"Benarkah?!"
"Iya Fa, bukankah ini suatu keajaiban" kata Dika senang
Lega sangat lega, setidaknya setelah ini aku bisa meminta ma'af pada Via karena kejadian tadi. Via aku menunggumu...
"Kakak"
"Via... kau akhirnya sadar" ucap kakakku sambil memelukku.
"Kakak kenapa ini?"
"Aku kangen banget sama adikku yang ini" tambah kakakku sambil mengacak rambutku.
"Ye... emang cuma aku adik kakak" jawabku, lalu aku mengatur nafasku dan mulai berpikir tentang kebahagiaan, "Dika mana Kak?"
"Bentar ya aku panggilkan" kata Kakakku sambil berlari keluar.
"Hai Vi" kata Dika sambil menutup pintu kamar dan mulai berjalan ke arahku.
"Gimana kabarnya sayang?"
"Baik dengan adanya dirimu selalu"
"Mau jalan-jalan?"pintaku.
"Nggak mau ah"
"Kenapa?"
"Kamu kan belum dapet ijin dari dokter"
"Aku pengen banget jalan-jalan rumah sakit ini, tolong mintakan ya" pintaku sambil memelas.
"Baiklah tunggu ya..." jawab Dika sambil mengelus punggung tanganku.
Ketika Dika keluar kamarku, Ibu dan Ayahku datang untuk melihat keadaanku, tentunya Ibuku masih sedih.
"Nak gimana, kamu sehat kan?" tanya Ibuku sambil mengelus punggungku.
"Sehat Bu, Ibu kesini sama Ayah tahu darimana?" tanyaku.
"Dini yang memberitahu kami" jawab Ayahku.
"Ibu kangen banget sama kamu nak" kata Ibuku sambil memelukku erat.
"Aku juga Bu, sangat dan jika boleh ingin sekali tiap hari aku merasakan pelukan hangat Ibu" jawabku sambil menahan air mataku.
"Via aku senang sekali akhirnya kau sadar, mengetahui kau telah tersenyum dengan orang yang kau cintai aku rasa sekaranglah waktuku untuk menjauh darimu Via", gumam Arfa dalam hati. Tak lama Arfa pun pergi menjauh menuju motornya di parkiran rumah sakit namun ketika ia akan melangkah menuju tikungan tak jauh dari posisinya tadi ada sebuah tangan yang menahannya.
"Kau tak mau menemuinya fa?" tanya Dika, lalu tanpa menunggu jawaban dari Arfa, dia menarik lengan Arfa mengantarnya menemuiku. Untuk sejenak aku tenang melihat Arfa tak apa-apa, tapi sekarang aku harus bagaimana, akankah aku memberitahu Dika tentang ini semua atau aku harus jujur akan perasaanku untuk Arfa. sebuah tangan meraih tanganku, tangan yang begitu kurindu, ya Arfa,
"Senang melihatmu sudah sadar" ucapnya lalu aku cuma bisa membeku disana.
"Aku juga senang bisa kembali melihatmu" jawabku seadanya.
"Mari lupakan semuanya dan temuilah kebahagiaanmu saat ini" katanya menenangkan pikirku, aku tahu ini bukan seperti yang ia harapkan tapi bisa apa aku saat ini. Melihatnya seperti ini saja aku sudah bahagia.
-the end-
selamat membaca...
Lihat diriku
Tak pernah terpikir olehku untuk memiliki penyakit yang menyeretku ke dalam hampanya hidup, aku kehilangan berbagai semangat hidup, kehilangan senyum yang harusnya terpancar di wajahku yang menawan ini, dan kebohongan yang selama ini telah kusembunyikan tentang keadaan yang sama sekali jauh dari kata sehat.
"Saya sakit apa Dok...?" tanyaku
"Anda menderita kanker otak stadium awal, itulah sebabnya anda sering mengalami pingsan" jawab dokter itu dengan penuh keyakinan.
Rasanya tubuhku seperti disambar petir, aku diam mematung selama beberapa saat ketika mendengar pernyataan dokter itu.
"Tapi selama anda bisa menjaga pola makan anda ditambah dengan mengkonsumsi obat ini anda mungkin bisa sembuh"
"Baik dok..."
Apa yang harus kulakukan, hidupku rasanya telah hancur. air mataku tanpa kusadari ikut menetes seakan merasakan apa yang kurasakan. Setelah mengetahui penyakitku ini aku agak menutup diri dari dunia luar, mengikuti ekstra seperti basket yang sejak dulu telah ku ikuti semenjak aku duduk di bangku kuliah ini telah kuhindari. Bahkan ajakan main keluar yang biasanya selalu kuikuti kini telah kutolak tanpa memberitahu alasan yang jelas.Orang-orang disekitarku mulai menjauh dariku, tapi semua hal itu tak kupedulikan lagi yang terpenting aku harus sembuh dulu. Tapi aku bersyukur kedua sahabatku tidak pernah ingin pergi meninggalkanku sendirian, meski mereka belum tahu penyakit yang kuderita.
Aku memang tidak menceritakan penyakit yang kualami pada orang lain termasuk keluargaku, hanya dokterku sendiri yang mengetahui penyebab menurunnya stamina hidupku. Aku tidak membuat orang-orang kusayangi khawatir akan diriku.
Tapi aku tidak ingin terpuruk selamanya dalam keadaan ini sampai aku menemukan surat dari pamanku yang telah meninggal di usia mudanya karena penyakit yang sama sepertiku. Semalaman aku menangis membacanya, surat yang ditujukan pada keponakan yang paling ia sayangi yaitu aku sangat menyentuh hatiku. Dalam surat itu ternyata Pamanku menceritakan keinginan untuk membahagiakan orang lain yang berharap aku bisa melakukan hal itu.
Sudah 2 minggu sejak aku divonis penyakit ini, mulai hari ini aku ingin berubah menjadi diriku yang selalu ceria. Pagi-pagi sekali kutelfon kedua sahabat karibku untuk mengajak mereka jalan-jalan pagi sambil mencari cemilan pagi, dan aku senang karena mereka tidak ada kuliah hari ini sama sepertiku jadi bisa puas acara jalan-jalan pagi kami
Ketika aku sampai di halte dekat kos-kosan ku kudapati kedua temanku menungguku.
"Kau terlambat 15 menit Dervia Arfa" kata Dini, sahabatku yang satu ini memang paling sering memanggil nama lengkapku.
"Kau harus mentraktir kami pizza paket combo ya sebagai permintaan ma'af" kata Niza, kalau sahabatku yang satu ini emang paling perhitungan.
" Iya-iya...." jawabku sambil nyengir.
"Via mau kemana aja kita...?" Tanya Niza.
"Beruntung semalam gua udah beli peta kota Malang..." Sontak membuat kedua temanku terkejut sampai gelagapan.
"Wah gila lo ya Dervia Arfa, kesambet lo..." Sentak Dini.
"Gue waras kok Dini Fahrenzia..."
"Tapi Via akhir-akhir ini kan kamu murung kenapa sekarang kamu jadi agak kembali kayak dulu, atau jangan-jangan kamu kamu murung itu gara-gara kamu kejedot pintu atau mungkin gara-gara jatoh dari kasur atau..."
Aku dan Dini langsung pura-pura tidur mendengar perkataan Niza.
"Kok gak di dengerin sih aku ngomong"
"hehe ma'af, kamu sih bicaranya kepanjangan..."
"Tapi kamu nggak apa-apa kan ?" pertanyaan Niza sempat membuatku membeku sebentar.
"Aku nggak apa-apa kok Niza Amarta..." Kataku sambil merangkul Niza.
"Baiklah, mari kita berangkat...!" ajakan Dini sontak membuatku dan Niza langsung berlari.
"Via...via..."
"Dervia..."
"Ma'af sebaiknya mbak-mbaknya tunggu diluar saja..." perintah suster itu.
Niza langsung menangis haru di pundak Dini, Dini berusaha tegar dengan menenangkan Niza tapi ternyata ia akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya sendiri dan akhirnya ikut menangis meski tak sesenggukan seperti Niza.
"Din apa yang terjadi sama Via sih?"
"Aku juga nggak tahu Za..."
"Bagaimana kalau Via..." suara Niza langsung terhenti ketika ia melihat Dokter keluar dari ruangan tempatku di rawat.
"Siapa kelurganya...?" Tanya dokter itu.
"Saya sepupunya dokter..." jawab Dini.
"Bisa bicara dengan saya sebentar?"
"bisa Dok..."
Dini dan dokter berlalu meninggalkan Niza menunggu di ruang tunggu sendirian. Dini hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya tanda bahwa ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kanker otak... apa dokter nggak salah diagnosa..."
"Apa Via belum cerita pada anda tentang penyakitnya sebelumnya...?"
"Dia tidak pernah bercerita apapun tentang penyakitnya dokter..."
"Kali ini kankernya sudah semakin parah, apa lagi tadi kata anda Via mengalami muntah setelah itu pingsan."
"Mungkinkah obat yang saya berikan tak pernah diminum olehnya..."
"Setahu saya Via tidak pernah mengkonsumsi obat apapun selama di kampus dok..."
"Mungkin Via harus tinggal di rumah sakit dulu selama beberapa hari untuk meninjau perkembangan penyakitnya."
"Baik Dokter..." Dini langsung keluar dari ruangan dokter yang menangani Via dan menghampiri Niza.
"Za... kenapa Dervia bohong sama kita..."
"Bohong kenapa?"
"Selama ini dia menutupi penyakitnya dan menahan rasa sakit sendirian..."
"Via sakit apa Din?" tanya Niza sambil terisak.
"Kanker otak... dan kini keadaannya makin parah..."
"Tapi..kenapa bisa Din.."
"Aku juga tidak tahu Niza..."
Niza menangis tersedu-sedu sambil terduduk, Dini hanya bisa menenangkan sahabatnya ini sambil memikirkanku.
"Aku pengen jalan-jalan kesitu..."rengekku sambil menunjuk alun-alun kota yang tengah lengang.
"Oke...oke Dervia Arfa..."
Langkahku terhenti karena tiba-tiba aku merasakan pusing di kepalaku yang makin menjadi ditambah lagi aku mual dan akhirnya muntah di pinggir jalan.
"Via kamu kenapa...?" tanya Niza sambil mengelus punggungku, aku hanya bisa menggeleng-geleng sambil mengusap mulutku dengan tisue. Sebenarnya aku sudah tahu kalau ketidak inginanku minum obat pagi ini akan berakibat seperti ini, tapi aku terlalu menganggap enteng semuanya.
"Dervia ayo kita ke rumah sakit badan kamu pucat tuh..."
"Aku nggak apa-apa kok...cuma tadi pagi aku salah makan aja..." aku terpaksa berbohong pada kedua temanku.
"Baiklah jika kamu nggak mau ke rumah sakit, sekarang biar aku pegang tanganmu nanti takutnya kamu gak kuat jalan..."
"Oke...oke..."jawabku dengan senyum manis.
Udara pagi yang menerpaku sejenak membuat rasa pusingku sedikit menghilang setibanya aku di alun-alun kota. Tetapi mendadak aku kehilangan keseimbangan tubuhku dan akhirnya aku terjatuh dan sedikit demi sedikit aku kehilangan kesadaranku. Tentunya kedua temanku langsung terkejut melihatku dan langsung menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Via..."
"Niza ayo kita bawa Via ke rumah sakit keluarganya, tidak jauh kok dari sini"
"Baik din..."
"Bantu aku angkat Via..."
Niza dengan sigap langsung membantu Dini mengangkatku dan beruntungnya ada taksi yang berhenti tak jauh dari alun-alun kota, taksi itu langsung melaju dengan cepat ketika kami bertiga telah masuk di dalam dan mendengar perintah Dini.
setelah 3 jam berlalu akhirnya aku sadar dan kudapati Niza dan Dini sudah berada di sampingku, dan menatapku cemas.
"Serius amat ngelihat gue, biasa aja kali..."
"Kenapa nggak mau bilang yang sejujurnya sama kita...?"
"Cerita apa an?"
"Penyakitmu Via..." kata-kata Niza langsung menohok hatiku, aku cuma bisa melongo mendengarnya.
"Kau sendiri bahkan nggak percaya sama aku, aku padahal teman sekaligus sepupumu..."
Aku hanya terdiam mendengar pernyataan Dini, pikiranku melayang pada kejadian 2 tahun yang lalu disaat orang tuaku begitu mengkhawatirkan keadaan kakakku yang cuma sakit demam dan kelihatannya juga nggak parah. Bahkan ayahku langsung membatalkan janjinya dengan clientnya begitu mendengar kabar bahwa kakakku sakit.semenjak kejadian itu aku tidak ingin membuat orangtua ku khawatir.
"Via..."
"Bisakah kalian merahasiakan penyakitku ini...?"
"Tapi... Vi"
"Kumohon apapun yang terjadi jangan pernah beritahukan pada siapapun termasuk orang tuaku tentang penyakitku..." Aku cuma bisa memandang kedua temanku dengan tatapan haru berharap mereka mengabulkan permintaanku.
"Baiklah Via, tapi kami ingin kamu rajin minum obat sama check up ya..."
"Dan jangan lagi kelelahan..."
"Terimakasih ya..." Aku menangis tertunduk mendengar kalimat kedua sahabatku yang begitu peduli padaku, akhirnya sore hariku di rumah sakit kuhabiskan dengan kesendirian karena kedua sahabatku harus pulang. Suasananya ternyata benar-benar hening berada di kamar rawat inap sendirian, tapi sepertinya keheningan itu tak lama menghantuiku karena nada pertanda panggilan masuk di ponselku. Tentunya langsung kuangkat dan setelah aku mendengar suara dari penelphon hatiku rasanya berbunga-bunga, Dika dialah orang yang menjadi penyelamatku dari kesunyian saat ini dan dialah kekasihku yang selalu dapat kuandalkan, tak lupa orang yang selalu membuatku bahagia.
"Gimana kabarmu...?"
"Baik..." jawabku dengan tersipu malu.
"Tadi aku nyari kamu di kos-kosan tapi kog nggak ada...?"
Hening sejenak, aku bingung harus menjawab apa...
"Oh tadi aku jalan-jalan sama Niza dan Dini..."
"Oh begitu..."
"Lain kali kalau mau datang sms dulu ya..."
"Iya Via sayang..."
Percakapan kami tentunya berakhir sampai aku mulai mengantuk, dan aku pun tak lupa mengucapkan beribu terimakasih tak lupa aku mengucapkan selamat tidur untuknya.
Hari-hariku selama di rumah sakit benar-benar membosankan, meskipun Niza dan Dini selalu tak absen untuk datang menjengukku. Beruntungnya aku hanya 3 hari disini, aku merasa sangat senang karena hari ini sang dokterku telah mengijinkanku pulang. Tentunya aku tidak langsung pulang, aku masih ingin jalan-jalan, dan hal ini sudah pasti membuat kedua sahabatku sekaligus dua orang yang setia bersamaku merasa sangat jengkel. Tapi dengan berakting layaknya anak kecil yang pengen makan permen meskipun sudah dilarang sama orang tuanya, mereka pun luluh dan mau menemaniku.
selama kurang lebih satu jam aku berputar-putar keliling daerah sekitar rumah sakit, tak kusangka ternyata pemandangan di tengah kota Malang ini masih sangat bagus. Aku memilih untuk berjalan kaki daripada naik angkutan.
Menurutku ketika berjalan kaki aku lebih bisa menghayati betapa indahnya alam ini, tanpa sadar pikiranku kembali melayang ketika aku diajak kakekku untuk memancing disungai kecil di sebuah pedesaan yang sangat asri.
"Kakek indah banget..."
"Benarkah...?"
"Iya..." Aku memandang takjub tebing-tebing yang mengapit sungai kecil ini.
"Via suka...?" tanya kakekku sambil melihat alat pancingnya
"Iya kek..." aku tak dapat lagi menyembunyikan senyumku ketika aku kembali memandang pemandangan di sekitarku.
Lamunanku dihancurkan oleh suara bajaj yang sepertinya agak mogok tak jauh dari tempatku dan teman-temanku berjalan. Aku cuma melewati bajaj itu dengan sedikit perasaan kasihan pada bapak-bapak yang sepertinya pemilik bajaj itu.
"Via ayo kita pulang, udah panas nih..." rengek Niza.
"Oke..." jawabku sambil menatap wajah Niza yang terlihat lecek karena sengatan dari sang mentari. Pandanganku teralih oleh seorang anak kecil yang tengah berjalan ketakutan di sepanjang zebra cross, aku bisa melihat sebuah mobil yang sedang melaju kencang akan menghampiri anak itu. Jeritan anak itu membuat tubuhku langsung berlari menyelamatkan anak itu. Suara decitan mobil dan disusul dengan teriakan kedua temanku serta warga sekitar pun tak dapat dihindari. Aku hanya bisa merasakan tubuhku seperti melayang di udara dan ditambah lagi tubuhku terpelanting karena sempat menghantam bagian depan mobil, lebih parahnya lagi aku juga merasakan kepalaku jatuh terlebih dahulu dan sepertinya sempat menabrak kaca depan mobil itu.
Aku terbangun dari mimpiku yang sangat kelam. Aku melihat diriku berada di ruang tunggu rumah sakit. Aku bertanya-tanya alasan mengapa aku berada disini lagi, sempat kulihat Niza berlari dan karena khawatir aku pun mengikutinya.
"Niza mau kemana...?" Aku sempat heran karena Niza sama sekali nggak menjawab saat kutanyai. Aku mengikuti Niza memasuki sebuah ruangan di rumah sakit, bisa kulihat Dini juga berada disana dan dia malah menangis sesenggukan. Aku tidak bisa melihat siapa yang sedang ditangisi Dini karena aku berdiri di dekat pintu tapi setelah aku mendekati Dini, aku begitu terkejut. Aku melihat diriku sendiri tergeletak di ranjang itu lengkap dengan perban di kepalaku. Apa yang kulihat ini nyata..
"Iyalah..." Suara disampingku membuatku langsung menoleh.
"Siapa kamu...?"
"Kamu itu berada di posisi terancam, bisa-bisanya kamu terpisah dari tubuhmu..."
"Aku tidak tahu..."
"Yang kau anggap mimpi sebelumnya itu sebenarnya benar-benar terjadi..."
Aku cuma bisa melongo karena tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Kamu tidak perlu syok begitu, sekarang yang perlu kamu lakukan adalah buatlah 7 kebaikan dan aku akan memberimu waktu 1 minggu, dan aku hanya bisa melakukan maksimal 3 kebaikan dalam 1 hari dan di hari ke-7 pastikan kamu telah melakukan 7 kebaikan karena jika tidak kau tidak akan bisa kembali ke tubuhmu..."
"Kenapa aku harus mempercayaimu, mengenal anda saja tidak..."
"Oh iya kau bisa menyebutku penjagamu..."
"What..?!"
"Aku harap kau bisa melakukannya jika kau masih ingin menikmati hidup ini..."
"Tapi bagaimana aku bisa melakukannya ? Bukannya aku tidak bisa terlihat ?"
"Oh iya lupa lagi, kau akan mulai agak terlihat di hari ke-7 jadi kau harus bergegas kembali ke tubuhmu. Kau bisa melakukannya Via, jika kau bingung coba cari di nama kamu... pergi dulu ya Via see you seven days again..."
"Hey..." Aku mencoba untuk meraih orang itu tapi ternyata tak bisa, bagaimana aku melakukannya hanya itu yang kupikirkan. Apa maksud orang itu dengan mencarinya di nama ku? Aku begitu lelah dengan semua ini, sudah divonis kena kanker otak saja sudah membuatku frustasi apalagi sekarang aku koma, semakin susah saja aku.
Hari ini yang bertepatan dengan hari pertamaku berbuat baik aku cuma bisa merenung. Aku selalu memikirkan maksud dari "coba cari di nama kamu" apa yang terdapat di namaku, tapi disela kebingunganku aku sedikit senang dengan keadaanku saat ini karena aku tidak perlu khawatir menabrak sesuatu. Sampai aku tiba di kampus tempatku bertemu Dika juga Niza, bercanda dengan Dika, aku yang selalu ceroboh disetiap saat dan Dika juga Dini serta Niza yang tak jera untuk menjagaku di kampus ini. Aku merindukan diriku, aku ingin sehat, aku ingin melalui hari-hariku tanpa di bebani jadwal minum obat, aku ingin bebas, tapi meskipun aku selamat dari komaku paling-paling aku juga akan segera mati. Perjalananku berhenti di depan pintu kelasku.
Aku melihat kelas tempat aku belajar, dan pandanganku teralih oleh daftar nama yang tertempel di dinding. Aku memperhatikan namaku lekat-lekat "Dervia Arfa", aku melihat setiap nama dari bawah dan berakhir di nama Arfa Prasetya. Namaku berakhir di Arfa, mungkinkah dia orang yang bisa membantuku. Tapi kenapa aku selama ini tidak sadar kalau ada nama Arfa Prasetya di kelasku, pikiranku berhenti ketika sang mentari menunjukkan kalau sinarnya akan segera pergi dan digantikan oleh kegelapan malam.
Aku memutuskan untuk mencari orang itu besok pagi karena seingatku besok aku biasanya ada kelas pagi. Aku memilih menunggu diriku di kamar inap tempatku dirawat, disana bisa kulihat Dini dan Niza yang setia menemaniku.
Aku mengikuti Dini dan Niza keluar rumah sakit dan menuju ke kampus, aku bisa melihat wajah lelah mereka berdua. Mereka memilih berjalan kaki karena letak rumah sakit tempatku dirawat tak jauh dari kampus. Mataku langsung terbelalak lebar ketika mengetahui Dika berlari menghampiri kami atau lebih tepatnya Dini dan Niza.
"Mana Via...?"
"Via nggak masuk hari ini..." jawab Niza dengan hati-hati.
"Sakit ya, kalau gitu akan ku jenguk sekarang..."
"Tunggu..." Dini langsung memberhentikan Dika, dia memandang haru Niza berusaha mengatakan apa yang selama ini mereka simpan.
"Via di rumah sakit keluarganya..."
"Dia sakit apa?"
"Kalau kamu ingin tahu pergilah kesana di dirawat di kamar Sakura 6..."
Tanpa basi-basi Dika langsung berlari meninggalkan Dini dan Niza yang berdiri mematung. Aku hanya bisa menatap kepergian Dika dengan tangisan haru yang mungkin tak akan pernah ada seorangpun yang akan mendengarnya.
"Cengeng..." sebuah suara mengejutkanku dan aku pun langsung bangkit dan melihat seorang laki-laki yang baru saja melewatiku, aku langsung mengikuti orang itu tanpa menunggu kedua sahabatku yang masih mematung.
"Apa katamu tadi...?"
"Cengeng..." orang itu menatapku tajam, mungkin dia memang memiliki wajah yang tampan dan postur yang tinggi tapi cara orang itu menatapku benar-benar membuatku batal untuk sedikit menyukainya.
"Enak aja kalau ngomong..."
"Emang kenyataan Via..." Aku terenyak saat mendengar orang itu memanggil namaku.
"Minggir sana aku udah hampir telat, eh lo nggak masuk ya... atau mau bolos..."
Aku hanya bisa terdiam, entah kenapa aku seperti disadarkan oleh suara yang mengganggu telingaku " udah tahu kan penolongmu" sotak aku langsung menatap kembali orang itu.
"Namamu Arfa kan...?"
"Iya..."
"kamu..."
"udah ah yuk masuk kelas..." Arfa menarik lenganku tanpa ragu dan dia menyeretku sampai masuk kelas dan dia menyuruhku untuk duduk di bangkuku. Aku memandang Arfa yang tengah mempersiapkan bukunya, dari bangkuku ini memang agak sulit melihatnya tapi karena dia tinggi aku bisa melihatnya. Saat yang paling kukhawatirkan pun tiba, dosenku mengabsen nama-nama muridnya. Aku benar-benar bingung bagaimana reaksi Arfa nanti mengetahui hanya dia yang bisa melihat dan menyentuhku. Semua murid menjawab dengan keras, tapi ketika datang pada namaku keheningan mulai terasa.
"Dervia Arfa..."
Aku hanya diam mematung begitu melihat Arfa menatapku dengan tajam.
"Sakit bu..." Dini pun angkat suara.
Aku menghampiri Arfa dan mengatakan kebenaran yang terjadi padaku, Arfa cuma mengangguk dan sesekali menulis kalimat di bukunya ketika dia ingin bertanya padaku. Aku mengatakan segala kejadian yang menimpaku, dan aku pun memohon padanya supaya dia bisa membantuku. Walaupun diperlukan perjuangan berupa pura-pura menangis dan memperlihatkan ekspresi seperti anak kecil yang pengen dibeliin balon akhirnya Arfa luluh dan bersedia membantuku meskipun dia baru bisa membantu besok tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Setelah menemui Arfa aku memutuskan untuk melihat diriku sendiri.
Kulihat seorang laki-laki yang sangat kucintai menggegam erat tangan yang paling kurindu, tatapannya tak henti berharap orang yang ada dihadapannya untuk bisa terbangun dari tidur lelapnya. Kerutan diwajahnya membuat ketampanannya tak pernah lekang oleh apapun, sejenak aku ingin sekali memeluknya dan memberitahu dirinya kalau diri ini disampingmu. Sekeras apapun diri ini mencoba untuk meraihnya tetap saja tak akan bisa dengan kondisiku saat ini. Dika berada di ruanganku selam 5 jam ia tak kenal lelah menemani tubuhku, ketika ia beranjak keluar aku pun mengikutinya dan entah mengapa tiba-tiba kepalaku merasakan sakit yang luar biasa, aku tidak menyangka kanker otak yang mendiami diriku akan berdampak pada diriku saat ini. Tapi ini sedikit aneh, karena tiba-tiba aku melihat bayangan Arfa yang tertabrak oleh mobil van putih dan ketika aku ingin menyelamatkannya aku langsung tersadar.
Oh apa lagi ini, aku berpikir dengan keras maksud dari penglihatanku tadi. Mungkinkah itu hal yang akan terjadi pada Arfa, menyadari hal buruk akan terjadi padanya Arfa aku pun segera pergi ke kampus menemui Arfa. Langkahku terhenti pada pintu kelasku yang telah terkunci karena hari telah sore, aku berlari mengelilingi kampus tapi tak dapat kutemukan Arfa. Akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali menemani tubuhku di rumah sakit. Semalaman aku cuma berfikir, tak mungkin aku tidur karena arwah tidak perlu tidur.
Ketika sang mentari mulai beranjak dari peraduannya terlihat, aku pun segera berlari menuju kampusku, setibanya aku di kampus aku bisa melihat Arfa tertunduk lesu sambil memandang kalung yang berbandul bulan sabit yang mengkilat diterpa cahaya mentari. Aku menghampirinya dan aku tertegun melihat Arfa ternyata menangis, ya meskipun dengan posisinya saat ini tidak ada orang yang tahu. Sungguh aku benar-benar terpukau oleh ekspresi wajahnya saat ini, dia begitu merasa kehilangan. Namun karena kecerobohanku tanpa sadar tanganku merangkul pundaknya dan dia pun menoleh padaku.
"Oh... Hai..." Sapaku dengan gelagapan.
"Kenapa kau ada disini...?" Tanyanya sambil menghapus air mata yang terlihat samar itu.
"Kamu lupa ya, aku perlu bantuanmu..."
"Oh iya, hari ini aku bisa tapi aku harus ngumpulin tugas ini dulu..."
"Oke, aku tunggu disini..."
Aku memandang pungung Arfa yang semakin jauh meninggalkanku, sungguh wajahnya tadi benar-benar tulus. Pandanganku teralihkan ketika aku melihat Dika sedang berlari, sontak aku langsung berlari mengikutinya dan disana bisa kulihat dia tengah mendekati Arfa. Aku tidak tahu ternyata selama ini Dika mengenal Arfa, tapi sayang aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena jarak kami yang lumayan jauh. Aku memutuskan untuk kembali ke tempat dimana aku menunggu Arfa tadi, kondisiku saat ini membuatku kesepian meskipun tubuhku selalu ditemani Dini dan Niza tapi rasanya kehangatan pertemanan kami tak bisa kurasa. Hampir selama setengah jam aku menunggu Arfa tapi tak ku jumpa juga wajahnya, mataku tak lekang memandang arah kedatangan Arfa nanti. Setelah hampir putus asa aku dikejutkan oleh suara berat dari orang dibelakangku.
"Ayo..."
"Heh ?! Kemana?"
"Katamu pengen nolong orang..."
"Iya sih tapi..." suaraku terhenti ketika aku melihat Arfa berjalan meninggalkanku. Hatiku sebenarnya agak dongkol sih bahkan mungkin rasanya pengen kutendang orang ini, yang bener aja udah aku nungguin lama-lama eh datang-datang malah maen tinggal aja.
Sepanjang perjalanan emang udah aku sengaja nggak ngajak makhluk yang satu ini ngomong, dan lagi-lagi aku dibuatnya marah dengan Arfa yang tiba-tiba berhenti tanpa ngasih kode.
"Aduh Fa...!" Omelku sambil memegang kepalaku yang agak sakit, tapi ini menurutku aneh karena biasanya aku kan bisa nembus apapun tapi kenapa si Arfa nggak ya, atau mungkin itu juga alasan si Arfa kemaren bisa maen tarik tanganku.
"Kamu lihat Ibu disana itu..."
Tanpa berkata-kata lagi aku segera memandang seorang Ibu yang dimaksud Arfa.
"Kita kesana." Kata-kata Arfa yang tanpa basa-basi itu sempat membuatku gelagapan.
Arfa langsung menolong seorang Ibu yang kelihatannya petugas kebersihan tengah membersihkan pinggir jalan sendirian, dia langsung mengambil sapu lidi yang terletak tak jauh darinya dan meminta persetujuan Ibu itu untuk bisa menolongnya membersihkan pinggir jalan yang lumayan kotor itu.
Aku cuma bisa berada di samping Arfa sambil menemaninya dengan mengajaknya ngobrol sesekali tapi sayangnya dia selalu merespon dengan cuek. Tapi aku tak peduli dengan hal itu bagiku dia mau menolongku saja sudah bagus. Arfa menyapu sepanjang jalan menuju sebuah perempatan yang jaraknya kurang lebih 600 meter dari tempat kamu mulai tadi, dia tampak berkeringat tapi bagiku Arfa tetap keren, gagah, ganteng...eh tunggu-tunggu bukannya aku udah punya Dika yang juga ganteng bin keren aduh kesalahan, gimana mungkin aku bisa bilang hal itu. Ternyata perdebatanku dengan diriku sendiri itu menarik perhatian Arfa.
"Lo kumat ya..."
"Apa lo bilang, enak aja..." bantahku sambil memandang kearah senyum Arfa yang baru kulihat hari ini. Sungguh dia sangat manis.
"Ayo kita pergi lagi..."
"Iya..."
Tak lama kami berjalan dan Arfa pun menemukan target selanjutnya, seorang nenek yang tengah kebingungan untuk menyeberang. Pandanganku tak lekang ketika melihat senyum tulus Arfa yang ia tunjukkan kepada nenek itu, tanpa kusadari senyumku merekah bebarengan ketika Arfa kembali menghampiriku, karena aku tidak mau kelihatan jadi stalker akupun segera mengalihkan pandanganku darinya.
"Ma'af lama..."
Aku cuma tertegun mendengar Arfa meminta ma'af padaku, sungguh benar-benar langka momen ini.
"Mau kemana setelah ini kamu ?"
"Biasanya aku kalau udah sore nunggu tubuhku di rumah sakit sambil sesekali mendengar candaan Dini dan Niza"
"Siapa mereka?"
"Oh... mereka sahabat karibku..."
"Oh..." hah, Arfa mulai lagi cueknya, benar-benar membuatku pengen nendang orang ini.
"Kamu kenal dengan Dika...?" Tanyaku mencairkan suasana yang sempat vakum.
"Iya, tapi nggak terlalu akrab..."
"Arfa..." panggilku dengan nada manja.
"Apa ?"
"Bisakah aku menginap di rumahmu ?" tanyaku dengan sangat hati-hati.
Arfa tampak berfikir sebentar sambil menimbang-nimbang, dan Akhirnya satu jawaban pun muncul.
"Ya..." Aku bingung harus menanggapi apa antara senang karena diperbolehkan atau tidak karena dia sangat cuek bin abis. Akhirnya dengan senyum yang tergolong sangat terpaksa aku pun bilang "Makasih Arfa kamu baik banget deh..."
Kami berjalan pulang kerumah Arfa dengan sejuta kediaman sampai dia menolong seorang anak kecil yang jatuh dari sepeda tak jauh dari rumah Arfa dan setelah menolong anak itu Arfa pun mulai mengajakku bicara meskipun terkadang dia cuma diam.
Ketika aku sampai di rumah Arfa aku cuma menguntitnya dari belakang meskipun nggak akan ada orang yang tahu aku tapi aku harus menjaga sopan santun sampai aku menabrak tubuh tinggi Arfa yang tiba-tiba berhenti dadakan lagi.
"Aduh Fa..."
"Ma'af,..."
Mataku terbelalak ketika melihat kamar Arfa yang berisi banyak buku dan foto-foto yang ia kumpulkan dan mungkin dia mengumpulkan foto itu sejak SD, terlihat dari seragam yang dia kenakan. Dan mataku tertuju pada sebuah foto yang menunjukkan latar di jalanan sepi dan seorang gadis yang bersepeda membelakangi arah kamera.
"Ehm Fa, itu kenapa objeknya membelakangi kamera...?"
"Privasi..." wah benar-benar ni orang udah buat gue dongkol tingkat atas.
"Oke...!"jawabku dengan sedikit membentak.
Sepanjang malam kulalui dengan berbincang-bincang dengan Arfa atau lebuh tepatnya aku yang kebanyakan ngomong ,dan ketika dia mau tidur aku pun memutuskan untuk pergi ke tempat asalku, rumah sakit. Entah aku mulai hidup atau mungkin malah makin parah yang jelas aku terkejut ketika mengetahui tubuhku terbaring di kursi tunggu dalam ruanganku dan menemukan kalau hari ke empat dan hampir seluruh hari kelimaku cuma aku habiskan untuk tertidur, aku benar-benar tak bisa mempercayai hal ini. Aku segera berlari ke rumah Arfa ketika mengetahui aku terbangun di malam pada hari ke lima ku. Sebenarnya apa yang terjadi, hatiku semakin kalut ketika kutemukan Arfa telah tidur pulas dan aku tidak mungkin bisa meminta Arfa berbuat baik hari ini. Aku menunggu Arfa bangun di tempat belajarnya, sejenak aku melihat sebuah benda yang menyilaukan mataku, ketika kudekati ternyata itu kalung yang membuat Arfa tertunduk haru kemarin. Kuamati lekat-lekat kalung itu dan entah mengapa aku begitu mengenal kalung itu, ternyata benar ini adalah kalungku dan orang yang ada di foto itu pasti aku karena sepeda itu mirip dengan sepedaku bahkan aku masih sangat ingat dengan seorang anak laki-laki yang selalui kujumpai setiap pagi di jalan itu, juga orang yang dulu sempat sangat kucintai. Itulah alasan mengapa aku sempat mengenali wajah Arfa.
Kalung ini adalah kalungku yang hilang ketika aku berangkat dengan tergesa-gesa pagi itu, mungkinkah Arfa menungguku...? Oh aku benar-benar bingung sekarang. Ternyata kehadiranku tadi diketahui oleh Arfa, aku melihatnya menatapku penuh amarah.
"Kemana saja kau kemarin?"
"Aku...aku..." aku cuma bisa tergagap melihat Arfa menatapku.
"Kau pasti tahu tentang kalung itu, iya kan..."
"Mungkinkah ini milikku...?" Tanyaku dengan mataku yang ikut berkaca-kaca.
"Iya untuk sekarang"
"Kenapa baru sekarang?" tanyaku sambil menatap Arfa tak percaya.
"Karena orang yang memiliki kalung itu adalah orang yang memandangku dengan rasa suka yang entah dari mana aku bisa merasakannya" jawab Arfa sambil mengusap fotoku dulu.
Sejenak aku tidak percaya bagaimana Arfa bisa mengatakan hal itu, bukankah dia sudah tahu kalau aku pacarnya Dika. Aku menaikkan kepalaku untuk memandang Arfa.
"Fa, bukankah kau sudah tahu jika aku pacarnya Dika?"
"Aku tahu, tapi saat ini kau datang padaku dan aku tak melihatmu bersamanya beberapa hari ini jadi kupikir aku bisa mengharapkanmu"
"Aku tidak bersama Dika karena dia tidak bisa melihatku Fa" jelasku sedikit membentak.
"Lalu aku tidak melihatnya bersamamu nona cantik"
"Kau tak tahu saja" jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"Oke...Oke... alasanku menunggumu adalah kau lah cinta pertamaku, dan aku tidak mau kau meninggalkanku lagi, juga aku berharap kau akan ada terus disampingku ketika aku berada dalam titik kelemahanku" jawab Arfa sambil memegang pundakku.
"Fa..."kalimatku terputus ketika aku merasakan kepalaku berdenyut begitu menyakitkan aku bahkan tak bisa menyangga tubuhku sendiri hingga membuatku jatuh tersungkur di depan Arfa.
"Via...!" Arfa memegangku dan memangku tubuhku.
"Fa antarkan aku ke tubuhku"
Arfa memacu motornya dengan kecepatan delapan puluh km/jam, dia melihat kebelakang untuk melihat keadaanku. keadaanku mungkin tidak memungkinkan bagiku untuk berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju tempatku dirawat tapi aku tidak ingin membuat Arfa menjadi pusat perhatian karena menggendongku. Meski aku berjalan dengan tertatih-tatih tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menolak uluran tangan Arfa.
Setibanya aku disana aku begitu terkejut melihat Dika, Dini, dan Niza berada di luar kamarku sambil menangis sendu, aku bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi padaku? Aku menembus tembok di ruanganku, aku benar-benar tak kuat melihat tubuhku sendiri. Benarkah ini tubuhku, kulihat tubuhku kejang-kejang lalu semburat merah khas darah keluar dari hidungku. Aku berjalan mundur menjauhi tubuhku hingga aku menyadari menabrak tubuh Arfa yang tengah berbicara di luar ruanganku dengan Dika. Arfa mengedipkan sebelah matanya dan memberi isyarat untuk mendengarkan.
"Parahkah keadaannya?"
"Iya, tadi dokter bilang kanker otaknya sampai di stadium akhir, dan..." Dika tak mampu untuk menyelesaikan kalimatnya, Arfa menepuk-nepuk pelan pundak Dika untuk menguatkannya.
"Pasti dia akan baik-baik saja Dik"
"Aku berharap seperti itu Fa tapi sudah tak ada lagi harapan baginya"
Napasku tercekat menahan air mataku yang semakin berderaian, aku masuk kembali ke kamar tempatku dirawat, dan menunggu tubuhku yang saat ini begitu lemah.
"Kau tak apa?" Tanya sebuah suara dari sampingku.
"Adakah harapanku untuk hidup?"
"Ada, dan malaikatmu telah menyelesaikan ke tujuh kebaikan untukmu tanpa sepengetahuanmu"
"Benarkah?" tanyaku dengan menoleh.
"Iya sayang dan ini reaksi yang normal bagi tubuhmu" terangnya sambil menatapku halus."Tapi ma'af untuk penyakitmu, aku tidak bisa membantu"
"Aku boleh bertanya?"
"Pasti mengenai mimpimu kemarin kan" tebaknya dan sangat tepat, sehingga aku pun hanya bisa mengangguk lemah.
"Pastikan untuk menjaganya, soal mimpimu itu bisa dikatakan kau melihat masa depan jadi kau tahu kan apa-apa yang perlu kau lakukan untuk menjaganya"
"Bagaimana jika aku gagal penjagaku?"
"Itu takdir" jelasnya singkat.
"Terimakasih" kataku pada Arfa yang tengah menunggu di ruang tunggu dengan yang lain. Arfa mengeluarkan ponsel pintarnya dan mengetikkan sesuatu lalu agak dicondongkan kearahku supaya aku bisa melihat yang tertulis disana, untuk?
"Kebaikannya"
oh iya sama-sama, lalu Arfa mengetikkan lagi. Ma'af untuk baru datang sekarang, aku tahu kau dulu menugguku kan.
"Iya tidak apa-apa, dan terimakasih untuk menjadi penolongku" ucapku tulus. "Kau tahu Fa, sekarang ini aku ingin sekali menguatkan orang yang berdiri dihadapanku dengan kepura-puraannya untuk tetap tegar"
Diam Arfa tidak menulis apapun apapun di ponselnya, dia malah berjalan maju dan dia mengajak Dika pergi keluar, lalu aku pun mengikuti dari belakang sampai kami tiba di parkiran depan.
"Ada apa Fa?"
"Kau pasti merindukan Via kan"
"Apa maksudmu?"
"Via ada disini Dik" kata Arfa enteng.
"Hei jangan bercanda"
"Aku serius Dik"
"Kalau Via ada disini sekarang aku pasti sudah melihatnya Fa, jangan becanda dong"
"Dia begitu cantik sekarang dengan bajunya yang begitu simpel, tanpa make up dan rambutnya yang tergerai lembut di pungggungnya menambah aksen kecantikannya" terang Arfa sambil menghadap lurus kearahku.
"Fa..."
"Dia segalanya bagimu kan, jadi jangan pernah menjauh dari tubuhnya, jaga dia dan juga dia akan segera bangun untuk menyapamu" Arfa menjelaskan dengan satu tarikan nafasnya yang mantap, "Aku yakin dia selalu berharap untuk bisa melihatmu disaat ia terbangun dari tidur panjangnya"
"Fa aku akan melakukannya, memang itu yang ingin kulakukan"
"Baguslah, kalau begitu terimakasih untuk mendengarkanku" ucap Arfa lalu berlalu meninggalakan Dika. Selama di perjalanan pulang Arfa menyesali semua perkataannya tadi.
"Terimakasih Arfa" ucap Via sambil memeluk Arfa dari belakang.
"Apa ini"
"Tetaplah begini kumohon, because it might be last chance"
"Hei kamu kenapa Via?" tanya Arfa sambil memegang tanganku yang mengapitnya.
"Tidak apa-apa, hanya aku ingin begini saja" jawabku dengan menahan air mata.
Arfa terdiam sambil mengelus tanganku yang mengapitnya dan saat ini bisa kurasakan tubuh hangat Arfa yang begitu menghangatkanku. Aku melepaskan pelukanku setelah kusadari bahwa semakin aku bersama Arfa seperti ini akan hanya menyisakan rasa sakit saja, aku melangkah keluar kamar Arfa namun tangan Arfa menghalangiku dan aku pun langsung menoleh kearahnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Arfa sambil mengeratkan genggamannya
"Menemani tubuhku" jawabku sambil mencoba melepaskan genggaman Arfa yang ternyata sulit untuk dilepas.
"Tidak maukah kau menemani tubuh ini?"
"Fa..."
"Oke...Oke Vi" Arfa akhirnya melepaskan tanganku dan aku segera berjalan cepat keluar keluar karena aku tak sanggup lagi menahan air mataku yang selalu ingin keluar ketika melihat wajahnya.
"Dika" ucapku sambil mencoba meraih bahunya yang tentunya tidak akan berhasil. Tangan Dika menggenggam erat tanganku dan dengan posisi tidurnya saat ini ternyata kekerenannya tak berkurang sedikit pun. Aku menemani Dika dengan duduk di lantai, dibawahnya tapi sedikit ke sampingnya dan mungkin aku tak bisa membuat Dika melihatku tapi setidaknya hal ini sudah cukup membuatku bahagia. Dika terbangun tepat pukul enam pagi lalu dia mengelus lembut rambutku.
"Tidur yang nyenyak ya Via, kutunggu kau bangun kembali dan kuharap orang pertama yang kau sapa adalah aku"
"Iya Dika...Iya..." jawabku sambil menangis dihadapannya, "Aku disini Dika, aku selalu menyapamu Dika, Dika..."
"Bye Vi" ucap Dika sambil melambai ke tubuhku lalu berlalu pergi, dan aku tak sanggup melihatnya pergi sehingga aku pun berlari dan terus mencoba meraihnya meski hal ini berakhir dengan tangisan sesenggukanku di lorong rumah sakit.
Aku terduduk lemah di lantai rumah sakit, dan merasakan sesosok tinggi melihat ke arahku tapi aku tak memedulikannya.
"Udah selesai nangisnya?"kata orang itu, "Ditanya malah diem, gue tinggal aja"
Sebelum orang itu hendak keluar aku menggenggam tangannya erat dan menoleh lelah ke arahnya.
"Bisa kita bicara sambil menjengukku?" pintaku.
"Tentu" jawabnya mantab.
Arfa mengikutiku masuk ke ruanganku kecuali dalam hal menembus pintu, Arfa duduk di tempat biasanya Dika duduk untuk menungguku sedangkan aku berdiri tentunya.
"Fa apa kau masih ingat hari dimana kau menemukan kalungku?"
"Ingat tentunya, karena di hari itu kau nampak terburu-buru sekali tanpa tahu keberadaanku yang ikut melihatmu " jawab Arfa agak bermasam muka.
"Kau tahu alasanku terburu-buru waktu itu karena aku telat bangun dan..." aku mengambil napas sekenanya untuk melanjutkan kalimatku, "juga karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihatmu meskipun itu barang sedetik saja" kataku tulus. "Tapi sebelum bertemu denganmu tugasku waktu itu belum kukerjakan aku jadi melupakanmu."
"Sekarang masihkah kalimat yang kau ucapkan untukku akan kau lakukan?"
Deg... aku tidak menyangka Arfa akan menanyakan hal itu padaku sekarang, pikiranku terlalu kalut untuk menjawabnya sekarang alhasil aku hanya mematung untuk membiarkan otakku menyusun kalimat yang cocok untuknya.
"Tidak"
"Kenapa?"
"Karena keadaannya sekarang berbeda, kau masih punya kewajiban untuk hidup bahagia bersama orang lain, dan aku punya kewajiban untuk membahagiakan orang yang kucintai setelahmu, dia jugalah orang yang telah memberiku harapan baru untuk tetap bahagia"
"Via untuk sekarang sampai hari ke tujuhmu tiba tak bisakah aku memilikimu?"
"Fa..."
"Kumohon Vi" pinta Arfa dan sekarang aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya aku pasrah saja.
"Tentu" jawabku dengan tersenyum ke arah Arfa.
"Terimakasih Vi" ucap Arfa sambil memelukku, sementara Arfa bahagia aku cuma bisa menangis di balik pelukannya memikirkan hal yang akan terjadi padanya.
Aku berjalan santai disamping Arfa mengelilinngi kota, hingga kami berhenti pada sebuah kebun apel yang sangat luas dan dipenuhi oleh buah apel yang masih tersangkut di batang pohonnya. Kami mulai berlarian kesana kemari untuk bermain kejar tangkap, aku nggak nyangka Arfa cepet banget larinya sedangkan aku hampir jatuh sendiri karena kakiku. setelah lelah berlari Arfa mengjakku untuk duduk di ujung kebun dan memandang ke arah bukit tak jauh dari kebun ini. Mataku tak henti-hentinya memandang takjub pemandangan di depannya, sungguh indaaah banget. Pandanganku teralihkan ketika tangan Arfa menyentuh tanganku dan aku langsung menoleh kearahnya.
"Kenapa Fa?"
"Aku suka melihatmu tersenyum tadi" kata Arfa sambil tersenyum kearahku dan aku cuma senyum cengengesan untuk membalas perkataannya.
"Tapi untuk senyum ini perlu di delete aja ya Vi" ucap Arfa lagi, lalu aku kembali menunjukkan senyumku kearahnya.
Entah mengapa kurasa hari ini berjalan dengan sangat cepat sekali, kami pulang dari kebun itu sekitar pukul lima sore. Aku lebih memilih ikut Arfa ke rumahnya, sesampainya kami disana Arfa langsung mandi dan aku menunggu di kamarnya. Aku sangat menikmati suasana di kamar Arfa karena selain rapi, juga penuh dengan foto-foto yang tertempel rapi di dinding yang menurutku indah dengan cerita dari masing-masingnya. Tidak tahu kenapa tubuhku kembali tidak seimbang dan akhirnya aku malah jatuh tertunduk dengan merasakan kepalaku yang begitu berdenyut sakit sekali mirip dengan rasa sakit yang kurasakan dulu bedanya sekarang ada orang yang mengkhawatirkanku dan menghampiriku disaat seperti ini.
"Vi kamu kenapa?" tanya Arfa khawatir.
"Ehm...nggak kenapa-napa Fa cuma pusing saja" jawabku sambil menatap ramah ke arah Arfa.
"Mau kuantar ke rumah sakit? Siapa tahu dengan kamu dekat tubuhmu akan baikan"
"Nggak usah Fa, aku kuat kok" jawabku sambil meraih meja di dekatku untuk membantuku berdiri, "Fa aku pulang dulu ya"
"Iya, hati-hati ya Vi" pesan Arfa dan aku hanya mengangguk untuk menanggapinya. Aku berjalan dengan lunglai setelah berusaha pura-pura tegar dari rumah Arfa. Ternyata sakit kepalaku semakin menjadi-jadi terlebih sekarang tubuhku mulai benar-benar kehilangan keseimbangan dan aku juga merasakan kesulitan bernapas setelaah itu semuanya terasa begitu gelap.
Aku terbangun di ruangan yang begitu asing dengan dipenuhi dengan warna putih, disana aku melihat tubuhku mulai mendekatiku dan menatapku.
"Kembalilah untuk Dika, jangan pedulikan dia" kata tubuhku sambil menunjuk kearah tubuh yang tergeletak lemah di ujung ruangan dengan bersimbah darah, mataku terbelalak ketika melihat baju yang ia kenakan, Arfa.
"Arfa...!" teriakku sambil berlari kearahnya, aku memangku tubuh Arfa di pangkuanku dan mengguncangkan tubuhnya."Fa jangan tinggalkan aku! kembalilah!"
"Pilihlah untuk siapa kau kembali, karena waktumu tak lama lagi" kata tubuhku yang semakin lama pergi menjauhiku begitu pula dengan Arfa yang menghilang, detik berikutnya mataku terkejap-kejap ketika melihat cahaya lampu di ruanganku dan banyak orang yang ada di ruanganku termasuk Kakak serta orang tuaku.
"Via ini Ibu nak"ucap Ibuku sambil mengelus rambutku. Aku menghampiri Ibuku dengan penuh rasa rindu yang selama ini mendekam di dalam hatiku,"Ibu aku disini Bu, aku sangat merindukan Ibu. Ibu tahu Ibulah orang yang paling kucintai di dunia ini dan itu tak akan berubah sampai kapanpun" kataku penuh haru sambil terus mencoba memeluk Ibuku. Aku terperanjat ketika merasakan tanganku ditarik oleh seseorang dan aku tahu kalau itu adalah Arfa.
"Didalam panas ya Vi" kata Arfa sembari melepaskan pegangannya begitu di luar rumah sakit. Aku cuma bisa mengangguk pasrah menanggapinya
"Hari ini hari terakhir aku memilikimu kan Vi" kata Arfa tiba-tiba
"I..iya" jawabku tergagap. Suasana hening kembali menghinggapiku, aku bingung hal apakah yang harus kukatakan padanya.
"Yuk jalan-jalan Vi" ajak Arfa dan aku cuma menjawab dengan anggukan.
"Tunggu ya, aku ambil motorku dulu", aku menunggu Arfa di depan rumah sakit hampir sendirian karena ketika aku menoleh ke pintu rumah sakit Dika tengah berlari kearahku atau tepatnya menembusku. Ternyata dia ingin ngobrol sebentar dengan Arfa, aku tidak begitu mendengar hal apa yang dibicarakan oleh kedua manusia itu jadi aku penasaran banget. Beberapa menit kemudian Dika kembali berlari ke dalam rumah sakit dan Arfa langsung melambaikan tangannya kearahku pertanda menyuruhku naik sih sebenarnya.
Bayanganku tentang banyak orang ternyata pupus juga, kupikir Arfa akan mengajakku ke alun-alun kota atau tempat bermain atau museum eh ternyata di sebuah taman yang begitu sepi banget entah bagaimana manusia satu ini mengetahui tempat yang indah seperti ini.
"Terkejut?"
"Iya, kok sepi banget ya Fa?"
"Nggak juga ada kau dan aku"
"Fa..."
"Iya...iya Vi, ini taman milik Pamanku, luas sih tapi ia tak berniat membuka untuk umum. Biasanya aku dan adikku yang kesini sekedar untuk jalan-jalan"
"Jam berapa ini Fa?" tanyaku tiba-tiba.
"Roh sepertimu ternyata juga pengen tahu jam berapa ya?"
"Fa..."kalimatku terhenti ketika tiba-tiba Arfa memelukku begitu erat dengan masih mengenakan jaketnya yang tadi belum sempat dilepas, hangat banget.
"Jangan pernah menanyakan padaku jam berapa untuk hari ini, bagiku tiap detik bersamamu sangat berarti dan aku tak ingin tahu ini jam berapa sekarang perasaanku begitu menyakitkan mengetahui pergantian jam yang telah habis kulalui saat bersamamu"
"Fa meskipun aku hidup kembali kamu kan masih bisa bersamaku"jawabku sambil menatap kearah Arfa
"Iya tapi rasanya tak akan sama seperti saat ini"sanggah Arfa sambil menatapku kembali dan Arfa memelukku dengan begitu erat hingga aku tak dapat lagi merasakan dinginnya udara di sekitarku.Aku cuma bisa berdoa agar Arfa tidak melepas pelukannya untuk saat ini, ini begitu menguatkanku untuk tetap hidup.
"Fa maukah kau tetap disisiku sampai hari ke tujuhku berakhir" pintaku sambil melepas pelukan Arfa untuk menatapnya.
"Bukankah itu sudah kulakukan?"
"Maksudku jangan pernah menjauh dariku dan tetaplah berada disampingku"
"Iya Cintaku" jawab Arfa sambil memegang kedua pipiku
"Keliling yuk Fa, udah nggak sabar nih" pintaku manja lalu mulai berlari dan Arfa pun mengejarku lalu memegang tanganku.
Indah sekali pemandangan kebun disini dengan hiasan pintu masuk yang berselimut bunga yang indah tampangnya, lalu dilanjutkan jajarang pohon besar di pinggir kebun yang sarat akan kerindangannya dan diujung kebun terdapat pondok kecil dengan balutan kayu jati yang sangat kokoh. Menurutku kebun ini sederhana penataannya tapi indah yang ditata.
Ketika aku bersantai dipondok Arfa berlari kearahku dan menyodorkan seikat bunga yang baru ia rangkai dengan indah, "Will you be with me my love?" tanyanya sambil berjongkok dengan satu kaki ditekuk ditambah dengan senyumnya yang menawan membuatku terpaku sesaat menikmati tampannya orang di depanku.
"Yes, for today"
"Really?"
"Then i'll say that i'll never waste this change"
"Terimakasih Via sudah hadir dalam hidupku, meski hanya sebentar tapi aku sangat menghargainya, mungkin aku memang terlalu egois untuk selalu berharap untuk memilikimu tapi itulah doa yang selalu kuucapkan sejak aku melihatmu"
"Dulu aku juga berharap hal yang sama tapi ketika Dika mulai mengisi hari-hariku semua doa itu entah mengapa lebuh tertuju pada Dika, meski aku sangat merindukanmu tapi aku tidak tahu mengapa aku tidak memikirkanmu ketika doa itu kuucap. Kehadiranmu di hatiku sudah lama bergantai dengan Dika dan ma'af jika aku harus mengucapkannya sekarang, ma'af untuk baru mengenalmu sekarang, ma'af...untuk baru hadir sekarang untukmu" ucapku dengan menahan air mataku tapi kurasa aku tidak bisa melakukannya karena ternyata deraian air mata telah mulai membasahi pipiku.
"Hei jangan menangis" Arfa memegang kedua tanganku dan mulai menatapku lagi tapi apa yang ia lakukan tak bisa menghentikan apa yang kulakukan saat ini.
Setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mengehntikan tangisku, sebuah rangkulan hangat membuatku menoleh ke arah samping dan si pemilik rangkulan itu langsung menyematkan sebuah bunga yang sangat indah di telinga kananku.
"Cantik sekali"
"Terimakasih" ucapku sambil tersenyum tulus
"Mau berfoto?" pinta Arfa.
"Tapi nanti aku nggak kelihatan"
"Kau tahu alasan mengapa aku menyematkan bunga itu?" tanyanya dan aku cuma menggeleng pasrah.
"Untuk mengetahui kau telah nyata apa belum, menurut artikel yang pernah kubaca biasanya roh yang hilang dari tubuhnya akan mulai mendapatkan ciri-ciri kehidupan lagi di hari ke tujuh" jelas Arfa.
"Ehm...kalau begitu ayo berfoto" ajakku
Arfa langsung mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai mengajakku mencari spot yang bagus untuk berfoto. Ternyata benar kata Arfa walaupun ia belum kuberitahu apa-apa yang dapat terjadi di hari ke tujuhku tapi intinya dia memang benar, dan aku nampak di foto itu meski pada foto lain ada juga yang cuma bayangan tapi setidaknya ada yang kelihatan. Arfa tertawa geli ketika melihatku tidak ada di beberapa foto dan aku juga tertawa ketika melihat sebuah foto dengan gaya aku menonjok Arfa tapi setelah foto itu terambil ternyata gayaku tadi belum berubah dan ketika aku ingin ganti gaya tanganku malah benar-benar menonjok Arfa
Senyumku terhenti ketika matahari mulai menunjukkan akan pulang ke peraduannya. Rasanya hatiku pecah berkeping-keping ketika aku sadar kalau seseorang yang sangat kurindukan dulu akan pergi dariku. Terlalu cepat memang, seharusnya aku dulu menunggunya, seharusnya aku dulu selalu mencari tahu tentangnya, seharusnya aku dulu mengenalnya.
"Mari pulang" ajak Arfa tiba-tiba.
"Oh...Oke" jawabku sedikit tergagap.
"Vi..." kata-kata Arfa terputus ketika ia mengetahui telfonnya berdering dan langsung berlari menjauh karena sepertinya ada panggilan masuk. Setelah beberapa menit kemudian Arfa menghampiriku dan segera menggandeng tanganku.
"Fa kenapa ini?"
"Teman lama ku lagi ngadain reuni dadakan di kafe dekat rumahku"
"Tak bisa kah kau tak hadir...ehm...maksudku besok saja kamu meminta untuk bertemu"
"Udah banyak yang nunggu soalnya Vi"
Arfa memacu kecepatan motornya diatas 80 km/jam, meski aku merasa sangat kedinginan karena ini sudah malam tapi aku menguatkan diriku untuk tidak mengeluh. Aku menyuruh Arfa untuk menurunkanku di rumahnya karena aku sangat khawatir dengan mimpiku beberapa hari yang lalu. Kami tiba di rumah Arfa sekitar pukul 7 malam, ketika Arfa hendak pergi lagi aku segera meraih tangannya.
"Kumohon temani aku ya Fa"
"Vi cuma sebentar kok paling cuma 1 jam, kamu tunggu aja di kamarku"
"Fa aku benar-benar memohon padamu kali ini tolong lakukan apa yang aku katakan, kumohon" pintaku tertunduk lesu.
"Baiklah"
Akhirnya Arfa mau menuruti perkataanku dan kami berdua pun akhirnya bercakap-cakap di kamar tapi ponsel pintar Arfa selalu mengisyaratkan ada pesan masuk dan itu sangat menggangguku.
"Vi aku pergi bentar ya" kata Arfa sambil berlari keluar
"Tapi Fa..." cegahku sambil meraih tangan Arfa erat.
"Aku akan kembali" kata Arfa sambil melepas tanganku dan berlari keluar, sontak aku langsung mengikuti Arfa namun kecorobohanku terjadi, aku tersandung kakiku sendiri lagi hingga membuat jarakku dan Arfa makin jauh.
Meski aku tak yakin tapi aku masih bisa melihat Arfa yang tengah berlari di pinggir jalan, aku sedikit bersyukur setidaknya dengan keadaanku yang masih tembus pandang aku bisa dengan cepat mengikuti Arfa. Hingga Arfa berhenti di depan zebra cross, aku masih belum bisa meraih tubuh Arfa lalu entah mengapa Arfa tak sadar jika ada sebuah mobil yang tengah oling hendak menabraknya, tubuh Arfa seperti terdiam membeku di badan jalan tanpa ada keinginan untuk berlari.
Brakkk
Kerumunan orang mengamati mobil yang terhenti setelah mengalami oleng, mereka membantu seorang laki-laki yang tengah tersungkur di jalan.
"Kau tak apa nak?" tanya salah seorang bapak-bapak yang membantunya.
"I..iya...tapi" kata laki-laki itu lalu menoleh ke arah mobil dan melihat seorang gadis yang tadi mendorongnya tak sadarkan diri tak jauh darinya. Dia langsung menghampiri gadis itu begitu melihat wajahnya.
"Via...Via...!" teriaknya sambil memangku tubuh gadis itu, ia telah berusaha menggoncangkan tubuh gadis itu tapi gadis itu tak menunjukkan tanda sadar. "Via...jangan pergi kumohon...Via...!" teriaknya lagi sambil memeluk tubuh gadis itu.
Perlahan tubuh gadis itu mulai menghilang tanpa meninggalkan bekas apapun, hanya kenangan dan sebuah permintaan yang tak sempat terkabulkan hingga begitu menyesakkan dada. Jika diijinkan sungguh Arfa tak apa menukarkan nyawanya untuk gadis yang sangat ia cintai dan sampai kapanpun tak akan pernah berubah.
Sementara itu di rumah sakit...
"Tante Via kenapa?" tanya Dini ketika melihat Ibu Via terhuyung lemas setelah keluar dari kamar Via.
"Via...Via...kritis" ucap Ibu Via dengan menahan tangisnya.
"Kenapa?" tanya Dini kalut.
"Dokter masih menanganinya" jawab Ayah Via dengan tegar.
Sementara itu Niza, Dika, dan Kakak Via baru datang dari membeli beberapa cemilan, dari kejauhan Niza berlari ke arah Dini dan ketika ia memandang wajah Dini yang tengah menangis serta Ibunya Via yang tertunduk lemas sontak Niza menjatuhkan belanjaannya.
"Ada apa Din?" tanya Niza ragu-ragu.
"Via..." jawab Dini namun ia tak bisa meneruskan kalimatnya karena lidahnya begitu kaku saat ini. Merasa mengetahui hal buruk yang terjadi Dika dan Kakak Via yang baru saja hendak bertanya mengurungkan niat mereka, Dika langsung berlari ke pintu kamar Via dan berusaha membukanya namun dengan cepat Ayah serta Kakak Via menghentikannya.
"Hentikan Dik" kata Kakak Via sambil memegang tangan Dika kuat.
"Via akan baik-baik saja" tambah Ayah Via.
"Via...Via...!"
Selang beberapa menit dokter keluar dan langsung menemui Ibunya Via.
"Kami minta ma'af, kami sudah berusaha semampu kami tapi Via tidak terselamatkan"
"Tante...!" teriak Dini sambil membantu Ibunya Via yang terhuyung akan jatuh.
"Nggak ini nggak mungkin Dokter Via masih hidup!" tolak Dika keras
"Kami minta ma'af sekali tapi kami telah melakukan semampu kami tapi pasien tidak dapat kami selamatkan"
"Bisa kami bertemu masuk Dok?" tanya Ayah Via hati-hati.
"Tentu, silahkan"
"Via" kata kakakku sambil mengelus lembut rambutku, "Hei kau punya janji padaku kan adikku yang paling ceroboh di seluruh dunia, jadi jangan pergi dulu dosa lo Vi" kata kakakku lagi menguatkan dirinya.
"Kak sudahlah" ucap Ayahku
"Nggak Yah, Via masih hidup aku tahu itu" bantah Kakakku
"Kak Via udah nggak akan bisa lagi disini"
Kakakku menangis haru ketika akan membantah lagi kata-kata Ayahku, mesin pendeteksi denyut jantung yang lebih membuatnya terpukul karena tidak menunjukkan tanda kehidupanku. Setelah beberapa menit berada di kamarku Kakakku akhirnya mau diajak keluar ketika petugas rumah sakit hendak mengurus tubuhku.
"Tunggu!" teriak salah seorang perawat yang hendak mematikan detektor denyut jantung, "Dia masih hidup" katanya lagi dengan tidak percaya.
"Panggil dokter cepat" teriak salah seorang perawat lainnya.
"Ma'af sebaiknya kalian tunggu di luar saja"
Akankah kau baik-baik saja?
Masihkah kau ada di dunia ini?
Tak bisakah kau mendengar rintihan hatiku karena merindumu?
Banyak sekali pertanyaan yang berkelebat di kepala Arfa yang ingin ia tanyakan sesampai ia di rumah sakit, namun ketika dari kejauhan ia melihat keluarga Via saling menangis haru segala ketegaran yang ia kumpulkan entah mengapa hilang dalam sekejap.
"Apakah Via baik-baik saja?" tanya Arfa dengan hati-hati pada Dika.
"Kuharap begitu"
"Apa yang terjadi barusan?"
"Via baru saja kritis dan sekarang dia udah mulai bangun"
"Benarkah?!"
"Iya Fa, bukankah ini suatu keajaiban" kata Dika senang
Lega sangat lega, setidaknya setelah ini aku bisa meminta ma'af pada Via karena kejadian tadi. Via aku menunggumu...
"Kakak"
"Via... kau akhirnya sadar" ucap kakakku sambil memelukku.
"Kakak kenapa ini?"
"Aku kangen banget sama adikku yang ini" tambah kakakku sambil mengacak rambutku.
"Ye... emang cuma aku adik kakak" jawabku, lalu aku mengatur nafasku dan mulai berpikir tentang kebahagiaan, "Dika mana Kak?"
"Bentar ya aku panggilkan" kata Kakakku sambil berlari keluar.
"Hai Vi" kata Dika sambil menutup pintu kamar dan mulai berjalan ke arahku.
"Gimana kabarnya sayang?"
"Baik dengan adanya dirimu selalu"
"Mau jalan-jalan?"pintaku.
"Nggak mau ah"
"Kenapa?"
"Kamu kan belum dapet ijin dari dokter"
"Aku pengen banget jalan-jalan rumah sakit ini, tolong mintakan ya" pintaku sambil memelas.
"Baiklah tunggu ya..." jawab Dika sambil mengelus punggung tanganku.
Ketika Dika keluar kamarku, Ibu dan Ayahku datang untuk melihat keadaanku, tentunya Ibuku masih sedih.
"Nak gimana, kamu sehat kan?" tanya Ibuku sambil mengelus punggungku.
"Sehat Bu, Ibu kesini sama Ayah tahu darimana?" tanyaku.
"Dini yang memberitahu kami" jawab Ayahku.
"Ibu kangen banget sama kamu nak" kata Ibuku sambil memelukku erat.
"Aku juga Bu, sangat dan jika boleh ingin sekali tiap hari aku merasakan pelukan hangat Ibu" jawabku sambil menahan air mataku.
"Via aku senang sekali akhirnya kau sadar, mengetahui kau telah tersenyum dengan orang yang kau cintai aku rasa sekaranglah waktuku untuk menjauh darimu Via", gumam Arfa dalam hati. Tak lama Arfa pun pergi menjauh menuju motornya di parkiran rumah sakit namun ketika ia akan melangkah menuju tikungan tak jauh dari posisinya tadi ada sebuah tangan yang menahannya.
"Kau tak mau menemuinya fa?" tanya Dika, lalu tanpa menunggu jawaban dari Arfa, dia menarik lengan Arfa mengantarnya menemuiku. Untuk sejenak aku tenang melihat Arfa tak apa-apa, tapi sekarang aku harus bagaimana, akankah aku memberitahu Dika tentang ini semua atau aku harus jujur akan perasaanku untuk Arfa. sebuah tangan meraih tanganku, tangan yang begitu kurindu, ya Arfa,
"Senang melihatmu sudah sadar" ucapnya lalu aku cuma bisa membeku disana.
"Aku juga senang bisa kembali melihatmu" jawabku seadanya.
"Mari lupakan semuanya dan temuilah kebahagiaanmu saat ini" katanya menenangkan pikirku, aku tahu ini bukan seperti yang ia harapkan tapi bisa apa aku saat ini. Melihatnya seperti ini saja aku sudah bahagia.
-the end-
Komentar
Posting Komentar